jump to navigation

Kurikulum? sudahkah benar dalam mendidik? January 20, 2010

Posted by mulyono rafianto in Manajemen.
add a comment

Di tengah-tengah hutan belantara Sumatera berdirilah sebuah sekolah untuk
para binatang dengan status “disamakan dengan manusia”, sekolah ini dikepalai oleh seorang manusia. Karena sekolah tersebut berstatus “disamakan”, maka tentu saja kurikulumnya juga harus mengikuti kurikulum yang sudah standar dan telah ditetapkan untuk manusia.

Kurikulum tersebut mewajibkan bahwa untuk bisa lulus dan mendapatkan ijazah ; setiap siswa harus berhasil pada lima mata pelajaran pokok dengan nilai minimal 8 pada masing-masing mata pelajaran.Adapun kelima mata pelajaran pokok tersebut adalah; Terbang, Berenang, Memanjat, Berlari dan Menyelam Mengingat bahwa sekolah ini berstatus “Disamakan dengan manusia”, maka para binatang berharap kelak mereka dapat hidup lebih baik dari binatang lainya, sehingga berbondong-bondongl ah berbagai jenis binatang mendaftarkan diri untuk bersekolah disana; mulai dari; Elang, Tupai, Bebek, Rusa dan Katak Proses belajar mengajarpun akhirnya dimulai, terlihat bahwa beberapa jenis binatang sangat unggul dalam mata pelajaran tertentu; Elang sangat unggul dalam pelajaran terbang; dia memiliki kemampuan yang berada diatas binatang-binatang lainnya dalam hal melayang di udara, menukik, meliuk-liuk, menyambar hingga bertengger didahan sebuah pohon yang tertinggi. Tupai sangat unggul dalam pelajaran memanjat; dia sangat pandai, lincah dan cekatan sekali dalam memanjat pohon, berpindah dari satu dahan ke dahan lainnya. Hingga mencapai puncak tertinggi pohon yang ada di hutan itu.
Sementara bebek terlihat sangat unggul dan piawai dalam pelajaran berenang, dengan gayanya yang khas ia berhasil menyebrangi dan mengitari kolam yang ada didalam hutan tersebut.

Rusa adalah murid yang luar biasa dalam pelajaran berlari; kecepatan larinya tak tertandingi oleh binatang lain yang bersekolah di sana. Larinya tidak hanya cepat melainkan sangat indah untuk dilihat. Lain lagi dengan Katak, ia sangat unggul dalam pelajaran menyelam; dengan gaya berenangnya yang khas, katak dengan cepatnya masuk kedalam air dan kembali muncul diseberang kolam.
Begitulah pada mulanya mereka adalah murid-murid yang sangat unggul dan luar biasa dimata pelajaran tertentu. Namun ternyata kurikulum telah mewajibkan bahwa mereka harus meraih angka minimal 8 di semua mata pelajaran untuk bisa lulus dan mengantongi ijazah.

Inilah awal dari semua kekacauan.itu; Para binatang satu demi satu mulai mempelajari mata pelajaran lain yang tidak dikuasai dan bahkan tidak disukainya. Burung elang mulai belajar cara memanjat, berlari, namun sayang sekali untuk pelajaran berenang dan menyelam meskipun telah berkali-kali dicobanya tetap saja ia gagal; dan bahkan suatu hari burung elang pernah pingsan kehabisan nafas saat pelajaran menyelam.

Tupaipun demikian; ia berkali-kali jatuh dari dahan yang tinggi saat ia mencoba terbang. Alhasil bukannya bisa terbang tapi tubuhnya malah penuh dengan luka dan memar disana-sini. Lain lagi dengan bebek, ia masih bisa mengikuti pelajaran berlari meskipun sering ditertawakan karena lucunya, dan sedikit bisa terbang; tapi ia kelihatan hampir putus asa pada saat mengikuti pelajaran memanjat, berkali-kali dicobanya dan berkali-kali juga dia terjatuh, luka memar disana sini dan bulu-bulunya mulai rontok satu demi satu. Demikian juga dengan binatang lainya; meskipun semua telah berusaha dengan susah payah untuk mempelajari mata pelajaran yang tidak dikuasainya, dari pagi hingga malam, namun tidak juga menampakkan hasil yang lebih baik. Yang lebih menyedihkan adalah karena mereka terfokus untuk dapat berhasil di mata pelajaran yang tidak dikuasainya; perlahan-lahan Elang mulai kehilangan kemampuan terbangnya; tupai sudah mulai lupa cara memanjat, bebek sudah tidak dapat lagi berenang dengan baik, sebelah kakinya patah dan sirip kakinya robek-robek karena terlalu banyak berlatih memanjat. Katak jugatidak kuat lagi menyelam karena sering jatuh pada saat mencoba terbang dari satu dahan ke dahan lainnya. Dan yang paling malang adalah Rusa, ia sudah tidak lagi dapat berlari kencang, karena paru-parunya sering kemasukan air saat mengikuti pelajaran menyelam.

Akhirnya tak satupun murid berhasil lulus dari sekolah itu; dan yang sangat
menyedihkan adalah merekapun mulai kehilangan kemampuan aslinya setelah keluar dari sekolah. Mereka tidak bisa lagi hidup dilingkungan dimana mereka dulu tinggal, ya…. kemampuan alami mereka telah terpangkas habis oleh kurikulum sekolah tersebut. Sehingga satu demi satu binatang-binatang itu mulai mati kelaparan karena tidak bisa lagi mencari makan dengan kemampuan unggul yang dimilikinya. .

Tidakkah kita menyadari bahwa sistem persekolahan manusia yang ada saat
inipun tidak jauh berbeda dengan sistem persekolahan binatang dalam kisah
ini. Kurikulum sekolah telah memaksa anak-anak kita untuk menguasai semua mata pelajaran dan melupakan kemampuan unggul mereka masing-masing. Kurikulum dan sistem persekolahan telah memangkas kemampuan alami anak-anak kita untuk bisa berhasil dalam kehidupan menjadi anak yang hanya bisa menjawab soal-soal ujian.
Akankah nasib anak-anak kita kelak juga mirip dengan nasib para binatang yang ada disekolah tersebut?

Bila kita kaji lebih jauh produk dari sistem pendidikan kita saat ini bahkan
jauh lebih menyeramkan dari apa yang digambarkan oleh fabel tersebut;
bayangkan betapa para lulusan dari sekolah saat ini lebih banyak hanya
menjadi pencari kerja dari pada pencipta lapangan kerja, betapa banyak para lulusan yang bekerja tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan yang digelutinya selama bertahun-tahun, sebuah pemborosan waktu, tenaga dan biaya. Betapa para lulusan sekolah tidak tahu akan dunia kerja yang akan dimasukinya, jangankan kemapuan keahlian, bahkan pengetahuan saja sangatlah pas-pasan, betapa hampir setiap siswa lanjutan atas dan perguruan tinggi jika ditanya apa kemampuan unggul mereka, hampir sebagian besar tidak mampu menjawab atau menjelaskannya.

Begitupun setelah mereka berhasil mendapatkan pekerjaan, berapa banyak dari mereka yang tidak memberikan unjuk kerja yang terbaik serta berapa banyak dari mereka yang merasa tidak bahagia dengan pekerjaanya.

Belum lagi kita bicara tentang carut marut dunia pendidikan yang kerapkali

dihiasi tidak hanya oleh tawuran pelajar melainkan juga tawuran mahasiswa.  Luar biasa “Maha Siswa” julukan yang semestinya dapat dibanggakan dan begitu agung karena Mahasiswa adalah bukan siswa biasa melainkan siswa yang “Maha”. Namun nyatanya ya Tawuran juga. Masihkah kita bisa berharap dari para pelajar kita yang seperti ini. Dan seperti apa potret negeri kita kedepannya dengan melihat potret generasi penerusanya saat ini? Apa yang menjadi biang keladi dari kehancuran sistem pendidikan di negeri ini…?

1. Sistem yang tidak menghargai proses Belajar adalah proses dari tidak bisa menjadi bisa. Hasil akhir adalah buah dari kerja setiap proses yang dilalui. Sayangnya proses ini sama sekali tidak dihargai; siswa tidak pernah dinilai seberapa keras dia berusaha melalui proses. Melainkan hanya semata-mata ditentukan oleh ujian akhir. Keseharian siswa dalam belajar tidak ada nilainya, jadi wajar saja apa bila suatu ketika ada siswa yang berkata bahwa yang penting ujian akhir bisa, gak perlu masuk setiap hari.

2. Sistem yang hanya mengajari anak untuk menghafal bukan belajar dalam arti sesunguhnya Apa beda belajar dengan menghafal; Produk dari sebuah pembelajaran kemampuan atau keahlian yang dikuasai terus menerus. Contoh yang paling sederhana adalah pada saat anak belajar sepeda. Mulai dari tidak bisa menjadi bisa, dan setelah bisa ia akan bisa terus sepanjang masa. Sementara produk dari menghafal adalah ingatan jangka pendek yang dalam waktu singkat akan cepat dilupakan. Perbedaan lain bahwa belajar membutuhkan waktu lebih panjang sementara menghafal bisa dilakukan hanya dalam 1 malam saja. Padahal pada hakekatnya Manusia dianugrahi susunan otak yang paling tinggi derajadnya dibanding mahluk manapun didunia. Fungsi tertinggi dari otak manusia tersebut disebut sebagai cara berpikir tingkat tinggi atau HOT; yang direpresentasikan melalui kemampuan kreatif atau bebas mencipta serta berpikir analisis-logis; sementara fungsi menghafal hanyalah fungsipelengkap. Keberhasilan seorang anak kelak bukan ditentukan oleh kemampuan hafalannya melainkan oleh kemampuan kreatif dan berpikir kritis analisis.

3. Sistem sekolah yang berfokus pada nilai Nilai yang biasanya diwakili oleh angka-angka biasanya dianggap sebagai penentu hidup dan matinya seorang siswa. Begitu sakral dan gentingnya arti sebuah nilai pelajaran sehingga semua pihak mulai guru, orang tua dan anak akan merasa rasah dan stress jika melihat siswanya mendapat nilai rendah atau pada umumnya dibawah angka 6 (enam). Setiap orang dikondisikan untuk berlomba-lomba mencapai nilai yang tinggi dengan cara apapun tak perduli apakah si siswa terlihat setangah sekarat untuk mencapainya. Nyatanya toh dalam kehidupan nyata, nilai pelajaran yang begitu dianggung-anggungka n oleh sekolah tersebut tidak berperan banyak dalam menentukan sukses hidup seseorang. Dan lucunya sebagian besar kita dapati anak yang dulu saat masih bersekolah memiliki nilai pas-pasan atau bahkan hancur, justru lebih banyak meraih sukses dikehidupan nyata.

seorang guru; apakah ini akan mempengaruhi nilai yang akan anda peroleh..? Mari kita ingat-ingat kembali saat kita masih bersekolah dulu; betapa bangganya seseorang yang mendapat nilai tinggi dan betapa hinanya anak yang medapat nilai rendah; dan bahkan untuk mempertegas kehinaan ini, biasanya guru menggunakan tinta dengan warna yang lebih menyala dan mencolok mata. Sementara jika kita kaji lagi; apakah sesungguhnya representasi dari sebuah nilai yang diagung-agungkan disekolah itu…?Nilai sesungguhnya hanyalah representasi dari kemampuan siswa dalam “menghapal” pelajaran dan terkadang ada juga “subjektifitas” guru yang memberi nilai tersebut terhadap siswanya. Meskipun kerapkali guru menyangkalnya, cobalah anda ingat-ingat; berapa lama anda belajar untuk mendapatkan nilai tersebut; apakah 3 bulan…? 1 bulan..? atau cukup hanya semalam saja..? Kemudian coba ingat-ingat kembali, jika dulu saat bersekolah, ada diantara anda yang pernah bermasalah dengan salahJadi mungkin sangat wajar; meskipun kita banyak memiliki orang “pintar” dengan nilai yang sangat tinggi; negeri ini masih tetap saja tertinggal jauh dari negara-negara maju. Karena pintarnya hanya pintar menghafal dan menjawab soal-soal ujian.

4. Sistem pendidikan yang Seragam-sama untuk setiap anak yang berbeda-beda Siapapun sadar bahwa bila kita memiliki lebih dari 1 atau 2 orang anak; maka bisa dipastikan setiap anak akan berbeda-beda dalam berbagai hal. Andalah yang paling tahu perbedaan-perbedaan ya. Namun sayangnya anak yang erbeda tersebut bila masuk kedalam sekolah akan diperlakukan secara sama, diproses secara sama dan diuji secara sama.

Menurut hasil penelitian Ilmu Otak/Neoro Science jelas-jelas ditemukan bahwa satiap anak memiliki kelebihan dan sekaligus kelemahan dalam bidang yang berbeda-beda. Mulai dari Instingtif otak kiri dan kanan, Gaya Belajar dan Kecerdasan Beragam. Sementara sistem pendidikan seolah-oleh menutup mata terhadap perbedaan yang jelas dan nyata tersebut yakni dengan mengyelenggaraan sistem pendidikan yang sama dan seragam. Oleh karena dalam setiap akhir pembelajaran akan selalu ada anak-anak yang tidak bisa/berhasil menyesuaikan dengan sistem pendidikan yang seragam tersebut.

5. Sekolah adalah Institusi Pendidikan yang tidak pernah mendidik Sekilas judul ini tampaknya membingungkan; tapi sesungguhnya inilah yang terjadi pada lembaga pendidikan kita. Apa beda mendidik dengan mengajar…?

Ya.. tepat!, mendidik adalah proses membangun moral/prilaku atau karakter anak sementara mengajar adalah mengajari anak dari tidak tahu menjadi tahu dan dari tidak bisa menjadi bisa.
Produk dari pengajaran adalah terbangunnya cara berpikir kritis dan kreatif
yang berhubungan dengan intelektual sementara produk dari pendidikan adalah terbangunnya prilaku/akhlak yang baik.

Ya..! memang betul dalam kurikulum ada mata pelajaran Agama, Moral
Pancasila, Civic dan sebagainya namun dalam aplikasinya disekolah guru hanya memberikan sebatas hafalan saja; bukan aplikasi dilapangan. Demikian juga ujiannya dibuat berbasiskan hafalan; seperti hafalan butir-butir Pancasila dsb. Tidak berdasarkan aplikasi siswa dilapangan seperti praktek di panti-panti jompo; terjun menjadi tenaga sosial, dengan sistem penilaian yang berbasiskan aplikasi dan penilaian masyarakat (user base evaluation).

Bayangkan pernah ada suatu ketika sebuah sekolah SD yang gedungnya
bersebelahan dengan rumah penduduk, dan saat itu mereka sedang belajar
tentang pendidikan moral, sementara persis di sebelah sekolah tersebut
sedang ada yang meninggal dunia, namun anehnya tak ada satupun dari sekelah tersebut yang datang mengirim utusan untuk berbela sungkawa di rumah tersebut. Alih-alih sekolahnya malah ribut sehingga ketua RW setempat sempat menegur pihak sekolah atas kejadian tersebut.

Mungkin wajar saja jika anak-anak kita tidak pernah memiliki nilai moral
yang tertanam kuat di dalam dirinya; melainkan hanya nilai moral yang
melintas semalam saja dikepalanya dalam rangka untuk dapat menjawab
soal-soal ujian besok paginya.

Artikel ini di ambil dari Tulisan Dr. Thomas Amstrong, pemerhati dan
praktisi Pendidikan Berbasis Multiple Intelligence dari AS, yang dibuat
sekitar tahun 1990an.dan telah disesuaikan dengan konteks Indonesia saat
ini.

Mari kita renungkan bersama dengan hati dan nurani kita yang terdalam dan
mari kita ambil hikmahnya.

Sumber: Buku Ayah Edy Judul: I love you Ayah, Bunda Penerbit: Hikmah, Mizan Group ( copas )

Bodoh dan Pintar Alla Bob Sadino January 5, 2010

Posted by mulyono rafianto in Manajemen.
add a comment

Orang pintarkah atau orang bodohkah Anda ? Hehehe. Tulisan copas dari teman, mungkin berguna bagi pembaca di blog ini. Meneruskan ilmunya Bob Sadino.

Setiap orang punya perjalanan hidup yang berbeda-beda dan menerjemahkan perjalanan hidupnya pun tak akan sama kedalam petuah-petuah kata yang bermakna. Demikian pula dengan sosok Bob Sadino yang ber-azzam untuk tidak membawa ilmu yang dimilikinya keliang kubur sebelum di ajarkan kepada anak bangsa ini. Berikut tulisan-tulisan Beliau, semoga bermanfaat.

1. Terlalu Banyak Ide – Orang “pintar” biasanya banyak ide, bahkan mungkin telalu banyak ide, sehingga tidak satupun yang menjadi kenyataan. Sedangkan orang “bodoh” mungkin hanya punya satu ide dan satu itulah yang menjadi pilihan usahanya

2. Miskin Keberanian untuk memulai – Orang “bodoh” biasanya lebih berani dibanding orang “pintar”, kenapa ? Karena orang “bodoh” sering tidak berpikir panjang atau banyak pertimbangan. Dia nothing to lose. Sebaliknya, orang “pintar” telalu banyak pertimbangan.

3. Telalu Pandai Menganalisis -Sebagian besar orang “pintar” sangat pintar menganalisis. Setiap satu ide bisnis, dianalisis dengan sangat lengkap, mulai dari modal, untung rugi sampai break event point. Orang “bodoh” tidak pandai menganalisis, sehingga lebih cepat memulai usaha.

4. Ingin Cepat Sukses – Orang “Pintar” merasa mampu melakukan berbagai hal dengan kepintarannya termasuk mendapatkahn hasil dengan cepat. Sebaliknya, orang “bodoh” merasa dia harus melalui jalan
panjang dan berliku sebelum mendapatkan hasil.

5. Tidak Berani Mimpi Besar -Orang “Pintar” berlogika sehingga bermimpi sesuatu yang secara logika bisa di capai. Orang “bodoh” tidak perduli dengan logika, yang penting dia bermimpi sesuatu, sangat besar, bahkan sesuatu yang tidak mungkin dicapai menurut orang lain.

6. Bisnis Butuh Pendidikan Tinggi – Orang “Pintar” menganggap, untuk berbisnis perlu tingkat pendidikan tertentu. Orang “Bodoh” berpikir, dia pun bisa berbisnis.

7. Berpikir Negatif Sebelum Memulai – Orang “Pintar” yang hebat dalam analisis, sangat mungkin berpikir negatif tentang sebuah bisnis, karena informasi yang berhasil dikumpulkannya sangat banyak. Sedangkan orang “bodoh” tidak sempat berpikir negatif karena harus segera berbisnis.

8. Maunya Dikerjakan Sendiri -Orang “Pintar” berpikir “aku pasti bisa mengerjakan semuanya”, sedangkan orang “bodoh” menganggap dirinya punya banyak keterbatasan, sehingga harus dibantu orang lain.

9. Miskin Pengetahuan Pemasaran dan Penjualan -Orang “Pintar” menganggap sudah mengetahui banyak hal, tapi seringkali melupakan penjualan. Orang “bodoh” berpikir simple, “yang penting produknya terjual”.

10. Tidak Fokus – Orang “Pintar” sering menganggap remeh kata Fokus. Buat dia, melakukan banyak hal lebih mengasyikkan. Sementara orang “bodoh” tidak punya kegiatan lain kecuali fokus pada bisnisnya.

11. Tidak Peduli Konsumen -Orang “Pintar” sering terlalu pede dengan kehebatannya. Dia merasa semuanya sudah Oke berkat kepintarannya sehingga mengabaikan suara konsumen. Orang “bodoh” ?. Dia tahu konsumen seringkali lebih pintar darinya.

12. Abaikan Kualitas -Orang “bodoh” kadang-kadang saja mengabaikan kualitas karena memang tidak tahu, maka tinggal diberi tahu bahwa mengabaikan kualitas keliru. Sednagnkan orang “pintar” sering mengabaikan kualitas, karena sok tahu.

13. Tidak Tuntas – Orang “Pintar” dengan mudah beralih dari satu bisnis ke bisnis yang lain karena punya banyak kemampuan dan peluang. Orang “bodoh” mau tidak mau harus menuntaskan satu bisnisnya saja.

14. Tidak Tahu Pioritas – Orang “Pintar” sering sok tahu dengan mengerjakan dan memutuskan banyak hal dalam waktu sekaligus, sehingga prioritas terabaikan. Orang “Bodoh” ? Yang paling mengancam bisnisnyalah yang akan dijadikan pioritas

15. Kurang Kerja Keras dan Kerja Cerdas – Banyak orang “Bodoh” yang hanya mengandalkan semangat dan kerja keras plus sedikit kerja cerdas, menjadikannya sukses dalam berbisnis. Dilain sisi kebanyakan orang “Pintar” malas untuk berkerja keras dan sok cerdas,

16. Menacampuradukan Keuangan – Seorang “pintar” sekalipun tetap berperilaku bodoh dengan dengan mencampuradukan keuangan pribadi dan perusahaan.

17. Mudah Menyerah – Orang “Pintar” merasa gengsi ketika gagal di satu bidang sehingga langsung beralih ke bidang lain, ketika menghadapi hambatan. Orang “Bodoh” seringkali tidak punya pilihan kecuali mengalahkan hambatan tersebut.

18. Melupakan Tuhan -Kebanyakan orang merasa sukses itu adalah hasil jarih payah diri sendiri, tanpa campur tangan “TUHAN”. Mengingat TUHAN adalah sebagai ibadah vertikal dan menolong sesama sebagai ibadah horizontal.

19. Melupakan Keluarga -Jadikanlah keluarga sebagai motivator dan supporter pada saat baru memulai menjalankan bisnis maupun ketika bisnis semakin meguras waktu dan tenaga

20. Berperilaku Buruk – Setelah menjadi pengusaha sukses, maka seseorang akan menganggap dirinya sebagai seorang yang mandiri. Dia tidak lagi membutuhkan orang lain, karena sudah mampu berdiri diatas kakinya sendiri.

Sumber : Bob Sadino

sumber : bodoh-vs-pintar-ala-bob-sadino

SEBUAH ZIARAH KE KUBUR SENDIRI October 25, 2009

Posted by mulyono rafianto in Al Islam.
add a comment

SEBUAH ZIARAH KE KUBUR SENDIRI
________________________________________
oleh Taufiq Ismail

DI BAWAH KEMAH DI ARAFAH
DITERJANG PANAS 50 DERAJAT
HAMBA LETAKKAN TULANG BELULANG HAMBA
MAYAT HAMBA TERBARING
INI SEBUAH SIMULASI
INILAH INVENTARISASI
MENJELANG PENGEMBALIAN SEGALA BARANG PINJAMAN
KEPADA YANG MAHA EMPUNYA

SEMUA BENDA YANG SEMPAT HAMBA AKUMULASI
SELAMA X TAHUN
BARANAG-BARANG BERGERAK, DAN BARANG-BARANG TAK BERGERAK
SURAT-SURAT DUNIA, DOKUMEN-DOKUMEN FANAA
ISTERI, ANAK, CUCU, ILMU, PUISI , BUDAYA
TERNYATA MEREKA BUKAN MILIK HAMBA
MEREKA BERGERAK SERENTAK
TAPI TETAP DI TEPI KUBUR
MEREKA SEMUA BERHENTI

HAMBA KEMBALIKAN GUMPALAN PROTEIN, AIR DAN GARAM INI
PADA DIKAU YANG MAHA EMPUNYA
MUDAH-MUDAHAN MASIH UTUH MANATA-MU INI, YAA RAZAQ
EMPAT RATUS TULANG BELULANG
TIGA BELAS PERSENDIAN UTAMANYA
ENAM RATUS OTOT DAGING YANG BERTUGAS SEMPURNA
SEPERANGKAT URAT SYARAF, SUSUNAN DARAH DAN PENCERNAAN
YANG KERJANYA DEMIKIAN FANTASTIK

SESUDAH X TAHUN LAMANYA KUPINJAM  ADI-KOMPUTER
HADIAH DIKAU INI, YAA RABBI
SEPULUH RIBU NEUTRON DALAM OTAK
YANG DIKAU PINJAMKAN INI
DENGAN SINYAL-SINYAL FIKIRAN SEKENCANG 400 KILOMETER PER JAM
WAHAI BETAPA SAYANG DIKAU
PADA LEMPUNG BERGARAM HAMBA, KHALIFAHMU INI
YANG DIKAU HADIAHI CERDAS DAN ILMU
TAPI SEMUANYA PINJAMAN
HANYA BAGAIMANA CARA HAMBA MENGEMBALIKANNYA

HAMBA MALU …… HAMBA MALU

DAN BILA REGANGAN TERAKHIR AKAN DISENTAKKAN
DAN BILA HIDUP MULAI DI SIBAKKAN
TAK SEMPAT LAGI MENINJAU INVENTARISASI
SEMUA BENDA YANG DIAKUMULASI
MUDAH-MUDAHAN SEMUANYA SUDAH RAPI
KARENA HANYA YAA-SIIIN YANG TERDENGAR KINI
DAN ISTERIKU YANG MULAI MERAH MATANYA
YA MUQALLIBAL QULUB

JANGAN PALINGKAN HATI HAMBA
HAMBA KEMBALI PADA DIKAU
DALAM KEADAAN TUMPAS, FAKIR DAN FANAA
SELURUH BARANG PINJAMAN HAMBA KEMBALIKAN
MUDAH-MUDAHAN SELURUHNYA UTUH
KALAULAH ADA BAGIAN DARI LEMPUNG BERGARAM INI
AUS DAN LONGGAR PASANGANNYA
GINJALKU BERBATU
JANTUNGKU MENYEMPIT AORTANYA
MOHON DIKAU TERIMA SEBAGAI BARANG YANG SUSUT
DAN INILAH TUMPUKAN DOSAKU
TAK DAPAT AKU SEMBUNYIKAN DARI PANDANGANMU, YAA BASHIR
AKAN KAU APAKAN HAMBA, YAA GHAFUR
BUKANKAH UBUN-UBUNKU SUDAH SEJAK DULU DALAM GENGGAMAN-MU, YAA MALIK?
BETAPA SAKIT TAK TERPERI

Excel Lib untuk Oracle Dev 10g October 24, 2009

Posted by mulyono rafianto in Programming.
add a comment

Beberapa Call Procedure dalam melukis excell dibutuhkan penyederhanaan Program, berikut ini beberapa Library semoga dapat bermanfaat :

Procedure Excel Library

Salam

Mulyono Rafianto

Oracle Deplover Programmed

Menengok Keserakahan Indonesia dari Bumi India October 12, 2009

Posted by mulyono rafianto in Public Opini.
add a comment

Oleh Syaifoel Hardy

Dalam sebuah ceramah akbar di Dubai-UAE beberapa tahun lalu, saya sempat bertanya kepada Dr. Zakir Naik, ulama besar asal India, ahli perbandingan agama yang tersohor namanya. Subyek pertanyaan saya adalah mengapa Islam boleh dikata tidak berhasil di India padahal India pernah di bawah sebuah kerajaan besar Islam, misalnya kekaisaran Mughal yang terkenal dengan Taj Mahal, atau Kerajaan Mysore yang terkenal pula dengan Isnata Maysore yang terindah didunia, bahkan melebihi Istana Birmingham. Dr. Zakir Naik menjawab, bahwa petinggi-petinggi kerajaan Islam di India waktu itu lebih memfokuskan kepada bangunan-bangunan fisik ketimbang dakwah Islam. Itulah salah satu faktor utama mengapa Islam malah menjadi minoritas di sana.
Ingin mengetahui lebih dekat jejak-jejak kebesaran Islam di India inilah yang manjadi salah satu motivasi saya untuk ingin melihat dari dekat apa dan bagaimana sebenarnya India. Disamping tentu saja banyak hal yang melatar-belakangi kunjungan saya, misalnya silaturahim dengan rekan-rekan kerja saya yang sudah mengundurkan diri, melihat institusi pendidikan serta mencari buku-buku India sesuai dengan profesi saya.
Banyak hikmah yang bisa depetik dari rangkaian perjalanan saya selama dua minggu di India, di empat negara bagian: Karnataka, Kerala, Delhi dan Uthar Pradesh. Jika dijabarkan satu persatu, terlalu panjang untuk diungkap di sini. Yang saya ingin soroti, dan semoga membawa hikmah bagi kita adalah, bahwa meskipun India kelihatannya miskin (padahal pertumbuhan ekonominya di atas Indonesia), nyatanya tidak semiskin yang kita sangka. Malah bumi kita yang dari kacamata saya, yang mestinya amat kaya raya ini, dihuni oleh orang-orang serta kepemimpinan bangsa yang serakah.

Saya mendarat di Bandara Internasional Bajpe-Karnataka, dua hari sebelum Hari Raya Idul Fitri. Tidak ada kesan bahwa bulan itu adalah Bulan Suci Ramadan. Maklum, India mayoritas penghuninya adalah umat Hindu. Saya sendiri berbuka puasa di atas pesawat, dengan suguhan Upuma dan Wadha. Dua makanan tradisional India yang amat murah harganya. Itu pun, sebenarnya jatah makan siang yang saya taruh di depan kursi pesawat untuk bekal berbuka. Saya tahu, mereka tidak akan menyiapkan untuk yang berpuasa. Lagi pula, budget airline seperti Air India Express yang kami tumpangi tidak memberikan pelayanan istimewa kepada penumpang.
Bandara Internasional Mangalore ini amat sederhana. Orang-orangnya tertib antri menunggu giliran pengecekan Flu Babi oleh petugas kesehatan. Tidak terlalu lama prosesnya. Saya segera keluar menuju kota Karkala, sebuah kota kecil sekelas kecamatan di negeri kita, sekitar 75 km dari bandara. Seorang rekan lama bersama keluarganya menjemput saya. Malam itu bandara diguyur gerimis.
Zahoor Ahmad, nama rekan saya, bersama keluarganya, begitu ramah menyambut kedatangan saya diteruskan dengan hari-hari berikutnya menjamu saya sebagai tamu. Mulai dari makanan, diantarkannya saya ke sejumlah tempat bersejarah serta wisata, menikmati suasana Lebaran di daerahnya, serta tentu saja mengunjungi sanak familinya di sejumlah kota.

Kekaguman di hari pertama saya terhadap orang-orang India (setidaknya itu yang saya temui di rumah Zahoor) adalah, binatang-binatang sekelas Burung Merak, berterbangan di halaman rumah. Bahkan masuk ke ruang tamu serta dapur. Padahal burung-burung indah ini tidak dipelihara alias liar. Orang India sepertinya tidak terbiasa memiliki burung-burung dalam sangkar. Atau pemerintah memang tidak mengijinkan, wallahu A’lam!
Di kota-kota lain yang saya kunjungi, seperti Kannur, Calicut, Mangalore, Maysore, Agra, Bangalore hingga Ibu Kota Delhi, juga saya tidak melihat orang-orang yang memelihara binatang-binatang langka di rumahnya. Barangkali hal ini yang membuat binatang-binatang atau burung-burung ini akrab dengan manusia-manusia India. Anak-anaknya Zahoor bahkan dengan akrabnya memberikan makanan pada Burung Merak. Padahal rumah indahnya tidak terletak di tengah hutan belantara seperti Papua. Burung-burung seperti Jalak, Merpati, Camar hingga Tupai yang beragam warnanya, saya temui di banyak tempat berkeliaran yang membuat lingkungan kita merasa asri.
Saya sering mendengar atau membaca di Koran tentang keburukan politisi India. Tapi rasanya tidak sebanding dengan di negeri kita utamanya dalam soal pemeliharaan lingkungan hidup. Saya pernah melihat sungai kotor di Delhi. Tapi pemandangan yang sama tidak saya temukan di kota-kota lainnya. Di Kannur misalnya, sungai masih hijau dan jernih. Padahal sungai besar, lebarnya tidak kurang dari 200 meter. Bau selokan di kota-kota India, tidak seperti yang saya temui di Jakarta atau Surabaya.
Hal ini pertanda bahwa orang-orang India tidak serakah terhadap kekayaan alam atau ingin memilikinya. Hutan Papua milik kita, gunung emas di sana dirampok dan digadaikan ke orang asing. Orang kita secara sembunyi-sembunyi atau terang-terangan juga memeliharan binatang atau burung-burung langka, sebagai bagian dari kebanggaan mereka. Saya tidak melihat, jangankan pasar burung, orang jualan sangkar saja sulit ditemui, meski mungkin saja ada di sana. Pabrik-pabrik di negeri kita banyak yang (Baca: dengan seijin penguasa) seenaknya membuang limbah.

Hal kedua yang menarik perhatian saya adalah cara berpakaian orang India. Kita memang tahu, orang India suka mengenakan Sari, pakaian tradisional kaum Hawa yang melingkar di tubuh. Bagi kaum Hindu, memang tidak seluruh tubuh tertutup. Sebagian (maaf) perut, terbuka. Namun tidak semua orang Hindu mengadopsi cara mengenakan Sari seperti ini, terutama kaum mudanya. Apalagi Muslimah India. Tertutup. Laki-laki India juga bangga mengenakan Shalwar Gameez atau Kurta atau Dhoti dan lain-lain pakaian tradisional. Zahoor member saya Kurta yang saya kenakan pada saat Lebaran.
Perempuan India, betapapun dari kalangan modern di tengah kota, bangga dengan pakaian tradisional mereka. Sutera di India jauh lebih murah dibanding Indonesia. Kekayaan tekstil yang dimiliki India menjadikan salah satu modal mereka tidak tergoyah ingin meniru dengan pola berpakaian ala Barat. Sekalipun kita tahu di film-film India banyak yang berpakaian seronok. Tapi dalam kehidupan sehari-hari, tidak demikian yang saya temui. Apalagi pakaian mini seperti yang kita temui di negeri ini. Sepertinya tabu, jika anak-anak atau perempuan-perempuan mereka mengenakan rok mini atau celana ketat. Padahal dalam segi pendidikan dan pergaulan, keponakan-keponakan atau saudara Zahoor misalnya, banyak yang berpendidikan tinggi setingkat dokter dan insinyur, mereka tidak tergiur dengan pola pakaian Barat yang mati-matian kita adop di negeri kita.

Budaya konsumsi orang India juga tidak seperti yang kita lihat dalam film-film mereka. Di Karkala, di tengah pasar, saya sulit mendapatkan kertas Tissue. Setelah mengunjungi 10 toko, baru saya mendapatkannya. Itupun sudah usang dan kartun pembungkusnya pun robek. Orang sana tidak tergiur dengan budaya menggunakan tissue. Mereka lebih senang mengantongi sapu tangan. Lagi pula di rumah-rumah, apakah itu di bagian depan, samping atau belakang, umumnya tersedia pipa air untuk cuci tangan atau kaki. Di ruang makan juga tersedia wastafel atau tempat cuci tangan. Jadi mengapa harus menyediakan tissue? Barangkali begitulah pola pikir mereka.
Pasar India tidak seterbuka pasar kita memang. Barang-barang yang ada di sana mayoritas buatan dalam negeri. Sepanjang perjalanan saya di empat negara bagian ini, jarang sekali saya menemui kendaran Toyota. Sesekali saya memang jumpai Innova. Selebihnya, entahlah, orang India lebih bangga mengendarai Maruti, Tata serta Bajaj, hasil rakitan mereka sendiri yang tidak semewah Corolla atau BMW.

India begitu bangga dengan hasil karya mereka sendiri serta tidak silau dengan buatan orang lain, apakah itu Jerman, Amerika hingga Jepang. Mulai dari pakaian, makanan, bahan bangunan, hingga gaya hidup. India tidak serakah dengan gemerlap dari luar pagar negara di anak benua Asia bagian Selatan ini.
Saya menyempatkan melihat buku-buku pelajaran milik dua anak rekan saya, bernama Zaman (kelas dua SMP) dan Zeeshan (kelas 2 SMA). Buku-buku mereka nampak sederhana sekali. Kualitas kertas nya tidak sebagus sebagian besar anak-anak sekolah kita. Saya menemui seorang Dekan di Universitas Manipal dengan mudah. Pula diterima oleh sekretarisnya penuh keramahan. Padahal saya hanyan ingin mmendapatkan sekedar informasi. Di perguruan tinggi kita, jangan harap diterima seorang dekan untuk urusan yang satu ini.
Saya mengunjungi sebuah perguruan tinggi terkenal, Manipal University di kota Manipal. Gedungnya tidak mentereng. Ruang-ruang kuliahnya tidak ber-AC, padahal jika musim panas tiba, suhunya bisa mencapai lebih dari 40 derajat. Berarti panas sekali. Bangku-bangku kayu juga sudah tua untuk ukuran kita, yang bisa diduduki oleh 4 mahasiswa. Dosen-dosen mereka juga kelihatan sederhana. Hal ini bisa saya ketahui lewat pola pakaian mereka serta tentu saja kendaraannya.
Biaya sekolah hingga kuliah tergolong murah sekali. Mengantongi MBA dalam dua tahun hanya menelan biaya sekitar Rp 10 juta, sebuah jumlah yang amat sedikit di negeri kita untuk program pasca sarjana. Uang saku Zaman, ketika saya tanya, dia bilang hanya diberi Ibunya Rupees 150 (tidak lebih dari Rp 40 ribu) per bulan. Berarti hanya Rp 1000 per hari. Apa artinya Rp 1000 di negeri ini? Dia juga berangkat ke sekolah dengan sandal saja. Tapi kemampuan Bahasa Inggrisnya  ngewes  selancar anak-anak kita berbicara Bahasa Jawa saja di kampung-kampung.
Buku-buku India murah sekali. Saya belanja tidak kurang dari 18 kg untuk buku-buku yang sulit mendapatkannya di Tanah Air. Buku-buku profesi yang saya dapatkan dari sana hanya tersedia kalau mau ke Amerika Serikat atau Inggris saja. Buku terbitan India terkesan tidak serakah mengambil keuntungan. Saya jadi heran, kebijakan apa yang diambil oleh generasi-generasiny

a Jawaharal Nehru ini, sehingga pendidikan tinggi mudah terjangkau serta buku yang teramat murah, tapi kualitas lulusannya bisa duduk di NASA-USA, terbang ke bulan dan jadi dosen-dosen di banyak universitas ternama di Negeri Paman Sam.

Tempat rekreasi rata-rata murah sekali tiketnya. Padahal kelasnya tidak tanggung-tanggung. Taj Mahal, biaya masuknya hanya Rupees 20 atau hanya sekitar Rp 5 ribu. Coba kalau kita mau masuk Taman Mini atau Ancol? Bandingkan kelasnya dengan Taj Mahal!

Pemerintah India tidak rakus terhadap perolehan hasil pajak dari pariwisata sebagaimana di negeri kita. Travel package pula itungannya murah sekali. Di Delhi, mengunjungi 10 tempat wisata, hanya bayar tidak lebih dari Rp 100 ribu, naik bis Volvo ber-AC. Travel agent tidak terkesan serakah mengambil keuntungan banyak dari pelanggan. Padahal, kami diantar oleh guide-guide professional.

Sebagian tempat wisata malah tidak ditarik iuran (karcis) masuk sama sekali. Saya jadi heran, bagaimana dengan biaya pemeliharaan tempat-tempat ini? Padahal mereka punya tukang-tukang pembersih atau tukang sapu yang kebanyakan perempuan-perempuan bersari. Meski keamanan amat ketat di banyak tempat, tapi petugas keamanan India tersekan ramah terhadap pengunjung. Saya tidak menemui pengalaman yang kurang atau tidak mengenakkan sama sekali selama mengunjungi tempat-tempat wisata ini.

India memang bukan negara kaya. Orang miskin banyak sekali. Banyak tempat juga kurang terpelihara. Jalan-jalan juga banyak yang berlubang. Bangunan di Delhi juga tidak semegah di Jakarta. Komunal konflik juga acapkali marak. India barangkali bukan sebuah percontohan. Maklum, jumlah penduduknya lebih dari 5 kali jumlah penduduk Indonesia. Meski demikian, saya tidak melihat pengemis yang berkeliaran di sana-sini. Saya tidak melihat satu pengemis pun datang ke rumah Zahoor, Abdul Karim Mohammad Koya atau Abdul Azeem. Saya melihat ada pengemis di kota-kota. Tapi juga tidak قÄ»gentayanganقÄô seperti di negeri kita yang acapkali mengganggu pengguna jalan, masuk bis-bis, mengetuk jendela mobil hingga ngebel rumah kita yang bisa jadi lebih dari 5 kali sehari.

Tukang amen atau pemusik jalanan? Meski India amat terkenal dengan musik, lagu-lagu dan tarian-tariannya, saya tidak melihat tukang amen atau pemusik atau penyanyi jalanan ini di mana-mana. Tidak pula saya temui satu kali pun mareka masuk di dalam bis atau kereta api. Apalagi mereka yang naruh kotak amal di tengah jalan, tidak pernah saya jumpai.

Di negeri kita? Dalam perjalanan Malang-Surabaya, yang sepanjang 70 km, anda bisa menemui sebanyak angka itu pula yang namanya pemusik dan pengemis. Saya tidak membela pemusik atau pengemis atau penjaja makan di India. Tapi itulah kenyataannya. Mereka tidak serakah mencari pasar. Saya tidak pernah merasa terganggu dengan kehadiran meraka di tempat-tempat wisata atau rumah-rumah rekan yang kami kunjungi.

Pembaca,

Saya tidak mau disebut sebagai orang Indonesia yang kufur akan nikmat Allah. Tapi bencana di Sumatera Barat, banjir si sejumlah daerah, mahalnya bahan-bahan pokok, sulitnya mencari minyak tanah dan gas, tidak terjangkaunya biaya pendidikan dan layanan kesehatan (yang ini di India juga murah sekali), semuanya jadi membuat saya iri dengan apa yang terjadi di India, sebuah negara besar yang mampu melahirkan manusia-manusia besar seperti Mahatma Gandhi, Nehru, Rabindranath Tagore hingga India Gandhi.

Ada banyak PR yang harus digarap oleh pemimpin-pemimpin di negeri ini. Jumlah masjid yang bertebaran di negeri ini (sulit mendapatkan hal yang sama di India), berjimbunnya jumlah majelis taklim serta kajian Agama Islam di televise-televisi, maraknya DaقÄôi-daقÄôi yang bersemangat sekali dalam berceramah memikat umat, sepertinya jauh dari cukup tanpa ada langkah konkrit: bagaimana mengelola sumber daya alam dan potensi manusia Indonesia yang konon sering meraih prestasi di berbagai momen olimpiade ini, agar menjadikan negeri ini lebih baik.

India memang bukan segalanya. Tapi melihat Indonesia dari jendela India, saya jadi bertanya-tanya. Ada apa dengan negeri ini?

Oh ya, pada hari terakhir kunjungan saya di India, di Bandara Mangalore, saya tidak perlu membayar pajak sepeserpun. Sementara di Cengkareng, saya yang asli orang Indonesia, harus bayar Rp 150 ribu, itu belum termasuk biaya fiscal yang konon hanya  Rp 1 juta, jika anda harus ke luar negeri.

Ah, Indonesia!

Doha, 8 October 2009

Sehat kah Rupiah Kita? September 15, 2009

Posted by mulyono rafianto in Public Opini.
add a comment

Apa Arti Peredaran Uang Rp 2000?
Oleh : Sufyan al Jawi – Numismatik Indonesia

Dewasa ini, bila anda berkendaraan melalui jalan tol, anda akan jarang
menerima uang kembalian berupa lembaran Rp 1.000,-. Kasir pintu tol
justru mengembalikan sisa tol dengan koin Rp 500,- aluminium. Memang
sejak Maret 2007, Bank Indonesia berencana menerbitkan uang kertas
(UK) baru, pecahan Rp 2000,- dan Rp 20.000,- lalu menarik uang kertas
Rp 1000,- bergambar Pattimura untuk digantikan dengan koin baru Rp
1.000,- yang bahan metalnya lebih murah dari koin Rp 1.000,- seri
Kelapa Sawit (1993 – 2000). Lalu apa arti perubahan ini?

Ya, tentu saja, dengan terbitnya pecahan Rp 2000, berarti pemangkasan
harta atau aset kita dalam mata uang rupiah, menjadi separuh dari daya
belinya semula, yang disebut inflasi rupiah! Anda yang tadinya cukup
nyaman dengan penghasilan, katakanlah Rp 2 juta/bulan, kini dengan
adanya pemangkasan tadi, anda harus menambah penghasilan dua kali
lipatnya! Artinya selepas Idul Fitri 1430 H nanti, penghasilan anda
harus naik menjadi Rp 4 juta atau sekurangnya Rp 3 juta / bulan bila
ingin tetap nyaman seperti hari ini (Juli 2009).

Lalu bagaimana dengan rakyat kebanyakan yang penghasilannya kurang
dari Rp 1 juta sebulan ? Ya, semakin blangsak

Berdasarkan sejarah, ketika era Soeharto dulu, uang kertas tertinggi
sejak tahun 1968-1991 adalah Rp 10.000,-. Lalu dengan alasan defisit
APBN, diedarkanlah uang lembaran Rp 20.000,- seri
Cengkeh/Cenderawasih, tahun 1992. Karena nominal “aneh” ini sukses
beredar, maka tak lama kemudian muncul nominal lebih tinggi lagi yaitu
Rp 50.000,- bergambar Pak Harto (1993). Dan tidaklah mustahil, bila
uang kertas Rp 2.000,- baru ini sukses beredar, maka Bank Indonesia
akan menerbitkan uang kertas dengan nominal baru lainnya, misalnya: Rp
200.000,-; Rp 500.000,-, bahkan Rp 1 juta!

Sebab hal itu memang lazim dilakukan oleh Bank Sentral di negara
berkembang. Karena ciri khas mata uang negara maju, nominal angkanya
hanya tiga digit saja, seperti USA $100, Arab Saudi 200 riyal, Eropa
500 euro, Inggris 100 poundsterling; kecuali Jepang dan Korea Selatan
dengan 10.000 yen dan 10.000 won, sebagai sisa sebuah trauma ekonomi
pasca Perang Dunia II.

Dengan ditariknya pecahan Rp 1.000,- maka otomatis uang receh terkecil
adalah Rp 500,-. Sedangkan koin pecahan Rp 100,- dan Rp 200,- akan
lenyap dengan sendirinya, rusak atau dicuekin. Hal ini lazim terjadi
pasca terbitnya uang baru, ketika pecahan Rp 1,- dan Rp 2,- lenyap
pada tahun 1975, sepuluh tahun kemudian Rp 5,- dan Rp 10,- lenyap di
tahun 1985, lalu Rp 25,- dan Rp 50,- lenyap di tahun 1995. Kini pada
2009 ini pecahan Rp 100,- dan Rp 200,- sudah kehilangan daya belinya.
Rakyat dieksploitasi untuk memacu kegiatan ekonominya, dan dipaksa
merelakan hilangnya sebagian jerih payah mereka.

Perhatikan akibatnya. Bila tadinya sebutir telur ayam negeri seharga
Rp 10,-/butir di tahun 1975, lalu naik menjadi Rp 100,-/butir di tahun
1985, maka pemegang uang rupiah telah kehilangan asetnya 1 digit dari
Rp 10,- ke Rp 100,-. Artinya si pemegang uang kertas harus mencari
sepuluh kali lipat lebih banyak lagi lembaran rupiah agar bisa membeli
telur yang sama. Bisa jadi suatu hari nanti harga sebutir telur ayam
negeri harus dibayar dengan lembaran Rp 10.000,-/butir, tinggal
menunggu waktu saja.

Untuk mengakali inflasi ini, Bank Indonesia cukup menambah angka nol
pada uang kertas baru. Inilah riba Zero Sum Game! Sampai kapan
permainan riba ini akan berakhir? Rakyat yang kalah gesit dalam
mengimbangi permainan ini pasti semakin terpuruk kondisinya.>

http://www.wakalanusantara.com/detilurl/Apa.Arti.Peredaran.Uang.Rp.2000?./12

3th World war, ternyata perang Media & Pembodohan Public? September 11, 2009

Posted by mulyono rafianto in Al Islam.
add a comment

Suatu saat di tahun 2001, setelah peristiwa 11 September, ketika stasiun televisi Arab Al-Jazeera menyiarkan gambar yang dikatakan sebagai putra dari Usamah bin Ladin, media Barat, terutama AS, pikir-pikir untuk ikut menayangkannya. CNN hanya menampakkannya beberapa detik.

Fox News, sama seperti banyak saluran televisi kabel lainnya, tidak menayangkan gambar apapun. Seorang jurubicara dari Fox, sebagaimana dikutip media mengatakan, “Tidak seperti (media) yang lainnya, kami di sini tidak akan melakukan pekerjaan humas untuk Taliban.” Mengapa media massa Barat yang sering menggembar-gemborkan prinsip jurnalistik ideal seperti journalistic truth, cover both sides, without fear or favor, menjadi melempem? Tidak lain dan tidak bukan karena ada Office of Strategic Influence (OSI) yang merupakan sebuah disinformation unit, sebuah lembaga yang sengaja dibentuk oleh pemerintah guna memberikan informasi yang tidak benar, bohong, dan manipulatif dengan tujuan membentuk opini publik, sebagaimana yang mereka kehendaki. Kantor kecil yang didukung anggaran jutaan dollar itu, dibentuk tidak lama setelah serangan 11 September 2001 terjadi, sebagai jawaban atas keprihatinan pemerintah Amerika Serikat yang mulai kehilangan dukungan rakyatnya atas perang melawan teroris di luar negeri, khususnya di negara-negara Islam.

Meskipun Rumsfeld mengatakan bahwa kantor itu belum memiliki dasar hukum, beredar sebuah pengarahan rahasia di lingkungan Pentagon yang mengatakan bahwa kantor itu harus mencari cara untuk “menekan” para wartawan asing dan pembuat opini, dan “menghukum” mereka yang menyampaikan berita yang salah, demikian tulis New York Times (27/2/02). Namun, misi dan visi OSI yang rahasia itu akhirnya terendus publik.

Seorang pejabat Pentagon yang tidak disebutkan namanya mengatakan, Rumsfeld sangat marah karena perdebatan internal mengenai kantor itu telah bocor ke publik. 27 Februari 2002, New York Times menulis dalam sebuah laporannya, Menteri Pertahanan Donald H. Rumsfeld hari itu membubarkan Office of Strategic Influence (OSI) buatan Pentagon, mengakhiri sebuah rencana yang baru berusia muda untuk menyediakan bahan berita –yang bisa jadi palsu– untuk para wartawan asing guna mempengaruhi sentimen publik di dunia internasional.

Rumsfeld tentu menyangkal apa tugas sebenarnya dari organisasi itu. Ketika ditanya mengapa OSI dibubarkan, ia mengatakan bahwa komentar dan kartun editorial seputar tujuan dan aktivitas OSI telah membuat organisasi itu sulit melakukan tugasnya. “Kantor itu telah sedemikian rusak sehingga sangat jelas bagi saya bahwa ia tidak bisa menjalankan fungsinya secara efektif,” begitu alasannya.

OSI boleh tamat riwayatnya dalam waktu hanya 9 bulan. Tapi misi dan visinya terus dilanjutkan oleh unit lain yang disebut dengan Information Operations Task Force. Seorang pejabat Pentagon mengatakan bahwa pemerintah telah menyewa The Rendon Group untuk membantu menjalankan tugas-tugas unit tersebut.

Perusahaan jasa humas internasional yang dipimpin oleh John Rendon, mantan staf kampanye pilpres Presiden Jimmy Carter, akan mendapat bayaran USD 100.000 per bulan untuk pekerjaannya membantu tugas-tugas kantor Pentagon lainnya. Jenderal Richard B. Myers, Ketua Gabungan Kepala Staf, mengatakan kepada House Armed Services Committee pada 6 Februari 2002, bahwa mereka sudah lama memiliki tugas dan tanggung jawab untuk “membangun, mengkoordinasikan, mengurangi konfik, dan memantau pengiriman pesan yang terus menerus, relevan dan efektif kepada publik internasional,” demikian tulis NYT (27/2/02). Tebar Pesona Adalah menjadi tujuan militer Amerika untuk memenangkan peperangan.

Tapi, berapa biaya yang sudah dikeluarkan Amerika Serikat untuk mengongkosi perang-perangnya sejak tahun 2001? National Priorities Project (NPP), lembaga riset Amerika beranggotakan cendekiawan dari berbagai perguruan tinggi terkemuka, dengan tujuan menganalisa dan mengklarifikasi data pemerintah Federal terkait penggunaan pajak rakyat AS, mempunyai datanya. Tahun 2001-2002, rakyat AS membiayai perang negaranya sebesar USD 20,8 milyar, tahun 2003 USD 67,7 milyar, tahun 2004 USD 90,4 milyar, tahun 2005 USD 105,5 milyar, tahun 2006 USD 120,7 milyar, tahun 2007 USD 170,5 milyar, dan tahun 2008 USD 183,0 milyar.

Pada tahun 2009 ini yang belum berakhir, sudah mencapai angka USD 156,5 milyar. Perang fisik yang dilakukan Amerika, meskipun dengan dukungan pasukan terlatih dan peralatan tempur super canggih, dinilai sangat melelahkan dan memakan materi dan nyawa yang tidak sedikit di pihaknya. Perang Vietnam menjadi bukti nyata bahwa perang fisik sangat sulit bagi Amerika. Meskipun hingga saat ini mereka tidak mau mengakuinya kekalahannya, jelas perang itu merupakan mimpi buruk dan aib bagi negara dan veteran perangnya. Iraq, negara yang tidak lagi punya pemimpin kharismatik dan wilayah yang sudah kacau balau, toh hingga saat ini tidak mampu dibuat tunduk seratus persen di bawah kaki Amerika.

Di Afganistan, Amerika Serikat membentuk pemerintahan boneka. Mereka dibantu kekuatan gabungan puluhan ribu tentara NATO dan sekutunya, yang dibekali perlengkapan tempur komplit dan canggih, namun hingga saat ini mereka tidak mampu menguasai wilayah selatan Afganistan yang menjadi basis kekuatan pejuang Taliban.

Jauh lebih berbahaya dari perang dengan tank, senjata api, pesawat tempur dan bom, peluru kendali, adalah kampanye tebar pesona yang mengagumkan. Perang yang paling berbahaya adalah perang pemikiran—kampanye propaganda yang mengendalikan pemikiran-pemikiran orang banyak.

Demikian tulis Paul J Balles, seorang profesor mantan pengajar di universitas Amerika. Mereka yang mengontrol media, mengontrol sikap mental orang banyak. Hasil polling terakhir di bulan Agustus lalu yang dilakukan oleh Washington Post dan ABC News menyatakan bahwa 51 persen orang dewasa Amerika mengatakan perang Afganistan tidak layak untuk dilakukan.

Angka itu naik 6 persen dari jumlah polling 10 bulan lalu. Kurang dari separuh, yaitu 47 persen yang menyatakan perang itu wajar menelan biaya yang banyak.

Sebanyak 41 persen menentang keras perang Afganistan, sementara hanya 31 persen yang mendukungnya. Polling yang digelar oleh Gallup atas perang Iraq bulan Juli lalu, menunjukkan bahwa 58% publik di Amerika menyatakan bahwa perang Iraq adalah sebuah kesalahan. Mengapa orang Amerika yang pastinya juga memiliki rasa kasih sayang, seakan acuh tak acuh melihat pembantaian satu juta orang Arab di Iraq, meskipun mereka tahu bahwa perang yang dilakukan itu berdasarkan pada kebohongan? Jawabnya, karena propaganda yang dilakukan selama bertahun-tahun.

“Peganglah kendali atas radio, pers, film dan teater,” kata Joseph Goebbels, Menteri Propaganda Adolf Hitler. Ia sangat paham teknik membuat ‘kebohongan besar’ dengan menggunakan propaganda sebagai alatnya. Prinsipnya adalah, sebuah kebohongan jika diulangi terus menerus, akhirnya akan dipercaya sebagai sebuah kebenaran. Itulah alasan Pentagon berani membayar mahal The Rendon Group, yang berusaha mati-matian mempengaruhi dan mengendalikan media-media massa, agar bisa menguasai isi kepala masyarakat internasional

Sumber : CP dari :  http://www.hidayatullah.com/index.php?option=com_content&view=article&id=9230:2009-09-11-12-46-26&catid=94:ragam&Itemid=88

Smart dengan Job Schedule Task. August 22, 2009

Posted by mulyono rafianto in Programming.
add a comment

focus2008aJajaran menajemen atau marketing membutuhkan data harian yang akurat dari hasil rekap penjualan kemarin, sebulan, dan beberapa bulan lalu dalam urutan time series yang sudah harus didapat pada jam 5 atau jam 6 pagi berupa email – Attachment Excell. Untuk  kebutuhan analisa besok
pagi breefing guna menyusun penyesuaian target terhadap sales force nya pada keesokan hari nya.

Dari request tersebut tentulah kita tidak akan masuk jam 3 atau 4 pagi guna menyusun Excel dari hasil rekap row data Database Oracle dan sekaligus meng-email kan pada bagian bagian yang membutuhkan
nya.

Berikut tutorial Smart dengan Job Schedule Task

Selamat menunaikan Ibadah Puasa August 22, 2009

Posted by mulyono rafianto in Al Islam.
add a comment

tausiahDalam bulan yang mulia ini, kita kembali di ingatkan untuk lebih menjadi insan mulia, dengan menahan diri dari perkara – perkara yang di larang Agama, lebih banyak beramal sholeh, mengerjakan amalan-amalan baik dan mengindahkan perintah-perintah Nya, menyadarkan kembali bahwa hidup ini hanya sebentar, di Dunia ini kita di uji di gembleng dan berikan begitu banyak pilihan…, Dunia ini hanya titipan .. yang harus kita kembalikan utuh.., mulai lah dari yang- kecil, niat di hati. mulai berlaku adil pada diri pada jiwa ini, bahwa sebenar-benar nya tujuan adalah perjumpaan dengan sang maha agung, Alloh yang memiliki 20 sifat mulia dan 99 nama yang paling baik. dengan puasa ini kita coba hapus titik demi titik dosa dan nista, suatu ketika air mata dan sesal tak akan berarti lagi. .. Bagi semua pihak, pembaca blog yang budiman, dengan segala kerendahan hati sang musafir perjalanan hidup ini menghatur maaf atas kekurangan,kesalahan dan kehilafan… Semoga Alloh ampuni dosa dosa kita. Amin Ya Robbal Alamin.

Selamat menjalankan Ibadah Puasa.

In Memoriam Mbah Surip (1957 – 2009) : selamat jalan musisi nyentrik… August 9, 2009

Posted by mulyono rafianto in Public.
add a comment

Di rangkum dari berbagai sumber oleh : Atikofianti

Innalillahi wa innailaihi rodjiun. Kepergian Mbah Surip bener2 mengagetkan banyak pihak. Di tengah popularitasnya, mbah meninggalkan kita semua. Mbah surip bahkan menjadi  pembicaraan seru di jejaring sosial facebook dan trending topics (topik hangat) situs mikroblog twitter pada hari Rabu (4/8) kemarin mengalahkan berita tentang Obama (yang berulang tahun ke  48), Clinton (yang berkunjung ke  Korea Utara) ataupun berita kematian Cory Aquino  (mantan presiden Philipina). Lalu siapakah mbah Surip?! orang yang ga kenal dan yang ga tau tentang dirinya pasti bertanya-tanya.

Well, gue juga ga  banyak tau tentang mbah Surip, tapi karena berita kematiannya begitu gencar diberitakan dimana-mana, gue jadi dapat info dari sana-sini, yang ada baiknya gue bagi dengan yang lain.

Lahir dengan nama lengkap Urip Achmad Rianto (Bin Soekotjo), mbah Surip lahir di Mojokerto pada 5 Mei 1957. Ia adalah Sarjana Teknik Kimia dengan gelar Ir, konon kabarnya menyandang gelar Dr dan MBA juga.

Mbah surip datang ke Jakarta pada 1985. Menurut sahabatnya yang merupakan ketua kelompok penyanyi jalanan di daerah Bulungan, Jakarta Selatan, Anto, mbah datang ke Jakarta dari Mojokerto, Jawa Timur  dengan menggunakan sepeda ontel. Saat itu mbah ga berniat untuk bernyanyi, ia datang ingin bertemu Ellyas Pical (petinju Indonesia asal Saparua, Ambon yang saat itu jadi juara dunia IBF kelas Bantam Junior). Mbah ingin ketemu Ellyas Pical untuk adu panco (adu kekuatan dengan menggunakan tangan), karena di kampungnya mbah jago main panco, tapi niat mbah untuk bertemu Ellyas Pical ga kesampaian.

Bergaul dengan komunitas musisi jalanan ibukota, membuat mbah Surip menjadi seniman jalanan juga, tapi  ia sempat juga melanglang buana ke Kanada, Yordania dan Amerika Serikat  (Texas dan California).  Mbah sempat bekerja  di perusahaan pengebor minyak dan tambang batu mulia.

Kecintaannya pada musik, membuat mbah kembali ke tanah air dan mengadu nasib di dunia tarik suara. Mbah beruntung dapat kontrak rekaman dan menelurkan sedikitnya5 album yaitu :

- Ijo Royo-Royo (1997)

- Indonesia (1998)

- Reformasi (1998)

- Tak Gendong (2003)

- Barang Baru (2004).

Mbah bahkan juga sempat mendapatkan penghargaan rekor MURI (Museum Rekor Indonesia) untuk kategori menyanyi terlama. Ia juga pernah ikut membintangi beberapa film. Tapi keberuntungan mbah rupanya ada pada tahun ini, ketika lagu Tak Gendong, yang notabene lagu lama yang didaur ulang meraih simpati masyarakat Indonesia sehingga menjadi hit dan disukai banyak orang.

Pesatnya industri musik di tanah air beberapa tahun terakhir ini sepertinya menjadi peluang bagi mbah Surip untuk ikut2an mengadu peruntungan di sana dan akhirnya sukses. Lagu Tak Gendong, paling tidak didownload ratusan ribu  penggemar sebagai RBT mereka, sehingga ga heran kalo mbah Surip kebanjiran uang, konon kabarnya, sedikitnya Rp. 4,5 milyar masuk ke kantong mbah Surip dari hasil RBT saja, belum termasuk penjualan album, Compact Disk dan iklan.

Tak Gendong, menurut mbah di ciptakan di suatu jembatan saat mbah melanglang buana ke luar negeri pada sekitar tahun 1983. Ada filosofi di lagu itu, yang menurut mbah adalah bergotong royong dan berani belajar salah.

Gue menilai lagu itu sebagai lagu berbagi rasa sayang (tak gendong kemana-mana, tak gendong kemana-mana ; ada sharing di lagu itu, ada rasa setia yaitu mendampingi dan menjaga). Hehe…  kurang paham maksud gue?! ya udah, ga apa2…

Kepergian Mbah Surip dinilai sebagian orang cukup tragis karena mbah pergi di tengah puncak popularitasnya. Dan ironisnya,  mbah belum sempat menikmati semua hasil jerih payahnya selama ini. Itulah yang membuat kematian Mbah  jadi fenomenal. Banyak orang menyayangkan hal itu, tapi toh takdir berkata lain. Tuhan keburu memanggil mbah.

Mbah Surip meninggal diduga akibat serangan jantung. Jadwalnya yang padat di tengah popularitasnya membuat mbah Surip kecapekan.

Kita kini ga bisa lagi melihat penampilan mbah Surip yang nyentrik lagi dengan tawa dan rambut gimbalnya yang khas. Tapi tentunya kita akan selalu mengenangnya sebagai sosok yang ramah, sederhana dan ceria. Dan tentu saja akan selalu mengenang karya2nya. Perjuangan hidup mbah surip yang penuh liku bahkan bisa memotivasi kita untuk terus berkarya dan tak berhenti menyerah.

Di suatu acara tivi, mbah pernah bilang, bahwa rambutnya menjadi gimbal karena disarankan oleh salah seorang temannya. Temannya yang sesama musisi jalanan itu yang mengepang rambut mbah dan menjahitnya dengan benang. Sejak saat itu mbah berambut seperti itu, sesuai dengan aliran pop Reggae yang di usungnya. Di kesempatan lain mbah bilang bahwa Reggae itu musik perdamaian, jadi damai terus.

Dan ternyata mbah benar-benar istirahat dengan damai untuk slama-slamanya. (berbagai sumber)

lirik Tak Gendong

what this is? you walk… ha..ha.. ha… follow me, ok?

Tak gendong kemana-mana
Tak gendong kemana-mana
Enak dong, mantep dong
Daripada kamu naik pesawat kedinginan
Mendingan tak gendong to
Enak to, mantep to
Ayo.. Kemana

Tak gendong kemana-mana
Tak gendong kemana-mana
Enak tau

Where are you going? Ok I’m walking
Where are you going? Ok my darling

Ha…Ha…Ha

Tak gendong kemana-mana
Tak gendong kemana-mana
Enak dong, mantep dong
Daripada kamu naik taksi kesasar
Mendingan tak gendong to
Enak to, mantep to
Ayo.. Mau kemana

Tak gendong kemana-mana
Tak gendong kemana-mana
Enak tau, ha.. ha.. ha..

Where are you going?
Ok I’m walking
Where are you going?
Ok my darling

Ha.. Ha…Ha

Tak gendong kemana-mana 2 x
Enak tau
Ha.. Ha…
Ha.. Ha…
Ha.. Ha……Ha

where are you going my darling? ok, i lie, darling, why you, you go, i go, together you, darling, ha. ha.. ha.. ha..

Tak gendong kemana-mana
Tak gendong kemana-mana
Enak dong, mantep dong
Daripada kamu naik ojek, kesasar
Mendingan tak gendong to
Enak to, mantep to
Hayo.. Kemana

Tak gendong kemana-mana
Tak gendong kemana-mana
Enak tau.. ha.. ha.. ha..

Where are you going? Ok I’m walking
Where are you going? Ok my darling

Ha…Ha…Ha

Tak gendong kemana-mana
Tak gendong kemana-mana
Enak dong, mantep dong
Daripada kamu naik busway kesasar
Mendingan tak gendong to
Enak to, mantep to
Ayo.. Mau kemana lagi

Tak gendong kemana-mana
Tak gendong kemana-mana
Enak tau, ha.. ha.. ha..

Where are you going?
Ok I’m walking
Where are you going?
Ok my darling

Ha.. Ha…Ha.. ha..ha.. ha… ha..ha….ha… ha.. capek!