Pulang….(cerpen segar) March 22, 2009
Posted by mulyono rafianto in Cerpen.add a comment
Cerpen ” PULANG“.. cerpen segar oleh Atiko fianti.
Tebar Pesona Objek Wisata Lo Gending October 24, 2007
Posted by mulyono rafianto in Cerpen.add a comment
“Tebar Pesona Objek Wisata Lo Gending”…
Terlalu indah untuk dilupakan, bersih, asri, dengan perbukitan dan cadas yang menjulang di sepanjang jalan menuju lo Gending, haparan laut yang luas terbentang, kesan itulah yang kami dapatkan dari kesan pertama saat kami kunjungi objek wisata lo Gending di kabupaten Kebumen Jawa Tengah, berbatasan dengan Kabupaten Cilacap ini. Objek wisata yang masih bersih nan asri, menebar pesona dalam benak untuk selalu “kangen” dan ingin mengunjungi nya lagi.
Keberadaan muara sungai yang luas dan lebar membuat obak laut selatan tidak seganas pada lokasi lain seperti misalnya daerah Puring, Petanahan yang juga masih dalam Kabupaten Kebumen, Pertemuan muara dan laut inilah yang menjadi daya tarik tersendiri untuk dapat dinikmati dengan ber-perahu menyusur mengelilingi muara yang lebar.
Nampak burung-burung laut, bertengger di atas pohon bakau yang rindang, Camar dan bangau merupakan variant burung yang masih banyak ditemui di sepanjang pantai selatan jawa ini. Selain itu burung walet yang menjadi lambang dari kabupaten Kebumen banyak sekali kami temu kan, menambah daya tarik yang menawan.
Biasa nya setelah habis dua, tiga hari lebaran, pengunjung mem-bludak, penuh dan sarat ingin mengunjungi objek wisata ini, hamparan pasir putih, tertutup oleh lautan orang, dari anak-anak, dewasa bahkan orang tua, bercanda riang, bermain menikmati pesona yang ada.
Objek wisata ini dapat di jangkau dari barat dari arah Purwokerto, Batu, Cilacap melalui ruas jalan nasional Jawa bagian selatan menyusur terus sampai daerah Ijo dan bisa juga dijangkau dari daerah Timur, Kebumen, Gombong, terus ke barat ke Ijo, Gua Jatijajar yang merupakan hamparan gunung kapur yang indah diselimuti flora yang terhampar hijau.
Lintas jalan nya pun sudah bagus dan cukup halus, sangat nyaman bagi yang membawa kendaraan sendiri, namun demikian sebagian anak-anak remaja, pemuda-pemudi banyak juga yang menggunakan sepeda motor, bahkan angkutan kendaraan umum yang dapat di naiki dari mulai pasar dan terminal Gombong yang sudah sangat ramai saat ini.
Bagi sebagian masyarakat Kebumen dan Cilacap pada umumnnya berwisata ke Lo Gending merupakan satu tradisi yang sangat nyaman dilakukan tiap tahun, membawa sanak-saudara, kenalan baru dari kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, dll, untuk sekedar memperkenalkan kekayaan daerah nya, merupakan kebanggaan tersendiri, terlebih memperkenalkan keindahan tersebut bagi calon istri/suami (“pacar”). inilah salah satu keindahan alam Kebumen yang indah dan asri. ketertarikan ini pula-lah yang membawa muda-mudi untuk berwisata ke Lo Gending.
Jika kita menggunakan kendaraan sendiri, kita dapat menyusuri jalanan yang kecil dan berbukit- bukit terjal, menuju daerah Karang Bolong sebelah timur Lo Gending, kita akan lebih banyak menemui keindahan alam yang lebih asri, perkampungan nelayan, tempat pelelangan ikan yang berada di pantai dengan bukit-bukit yang curam, untuk sekedar membeli oleh-oleh hasil tangkapan nelayan, ikan disini di jual masih murah karna dari tangan pertama langsung yaitu para nelayan serta masih sangat fresh. Juga akan ditemukan ladang-ladang penduduk yang berada di dataran perbukitan ini, nampak di beberapa tempat kita dapat saksikan pula luas nya samudara laut selatan dari kejauhan, yang seakan tiada bertepi, hembusan angin yang kencang, lambaian-lambaian pohon kelapa, rimbun-nya pohon di beberapa tempat, serta jalanan yang kecil menanjak dan menurun, berliku dan berkelok tajam.
Lebih ketimur banyak hal yang akan membawa kita pada ketakjuban yang sangat luar biasa, ngarai, jurang dan pesona keindahan jajaran bukit-bukit yang terbujur dari barat ke timur, penat dan kejenuhan hilang sudah terobati, dalam waktu yang sesaat masa liburan kali ini, cukup lah sudah membawa serta keluarga dalam robongan wisata yang murah, meriah namun sangat mengesankan, selamat tinggal lo Gending… moga tahun depan tebar pesona-mu akan selalu mengingat kan kami, untuk kembali membawa rekan dan saudara kami lebih banyak lagi untuk menikmati ke-indahan alam mu..
Bersilaturahmi October 22, 2007
Posted by mulyono rafianto in Cerpen.add a comment
Dalam lebaran ini sudah menjadi kebiasaan kami untuk saling mengunjungi kerabat satu sama yang lain, tahun ini kuputuskan untuk membawa anak dan istri ke Jakarta dalam minggu pertama lebaran, mengingat kondisi arus migrasi penduduk yang sudah aku prediksikan bakal penuh, ada rasa syukur yang tak terhingga, sehingga semua nya dapat berkumpul dalam kebersahajaan bersama, menikmati detik detik akhir bulan puasa dan gema takbir yang menyeru kebesaran nama NYA, terlatih sudah kita oleh satu ujian yang dasar, menyadarkan kami kembali bahwa apa pun yang kami miliki adalah anuggrah yang sangat besar yang wajib kita keluarkan dan kita sisihkan sebahagian nya untuk berbagi rasa, berbagi empati dengan saudara kita yang masih kekurangan, rasa puji dan syukur tak putus kami panjatkan, bahwa semua datang atas karunia NYA yang amat bermanfaat bagi kami sekeluarga.
Sehari menjelang lebaran, kami bersama bersimpuh berdoa di pusara ayahanda tercinta, yang genap hampir setahun meninggalkan kami semua, meninggalkan amanah untuk kami agar senantiasa berlaku jujur dan santun dalam menjalani hidup ini. rangkaian do’a kami panjatkan untuk ketenangan dan ketentraman Almarhum, Semoga ALLOH yang maha tinggi memberikan ketenangan, ketentraman dan kebahagian dalam tidur panjang nya.
Di hari pertama lebaran, kami sempatkan sembahyang Idul Fitri, di mesjid di belakang rumah kami, kubawa anak dan keponakan ku untuk sama-sama menghatur sembah dan sujud dengan penuh rasa syukur di hari yang fitri ini, menggenapkan semua yang telah kami jalankan di sepanjang ritual puasa yang indah nan agung mendidik kami, menyiram kesejukan yang dalam di hati sanubari kami, dengan harap semoga ALLOH memberikan umur yang panjang untuk menjupai nya lagi di tahun depan. hujan pagi hari di awal hari yang fitri membasahi, melenyapkan noda debu, menyingkap kesejukan dalam bathin, satu lagi berkah yang tak ternilai telah ALLOH guyurkan untuk memfitrikan setiap hati kami.
Kami bersujud dihadapan Ibunda tercinta tuk menghatur maaf dan bersipuh dalam do’a dan ampuan semoga apa yang telah kami lakukan dan perbuat terampunkan dan mendapat hidayah NYA, anak, Istri, adik-adik ku saling silaturahimi, dalam kedamaian dan ketentraman, kami bersilaturahmi juga dengan para tetangga, bu de, pak de dan bu lik, pak lik, keluarga yang ada di jakarta.
Sore menjelang di hari yang fitri, Aku dan Istri serta anak ku sudah siap untuk mudik, pulang ke kampung halaman istriku, dalam malam bis malam yang kami tumpangi, kurangkai takbir dan tahmid dalam hati. memuji kebesaran NYA.
Pagi yang cerah dihari kedua lebaran, Aku sudah berada di suatu dusun yang asri, kampung tempat anakku Prasetyo di lahirkan, sudah jadi tradisi hari kedua dikampung Istriku adalah hari yang sarat dengan keberkahan untuk saling bersilaturahmi, berma’af-ma’af-an, saling kunjung mengunjungi, sambutan letusan petasan sudah jadi tradisi pula dalam menyambut lebaran, semua family, kerabat, saudara, teman, bibi, pak lik, bu de, pak de, dan seluruh masyarakat kampung luruh dalam kegembiraan dan ketentraman bathin, saling cerita bersilaturahmi, berbagi kebahagiaan, saling memulya-kan dengan saling mema’afkan.
Sudah genap seluruh keberkahan dan kemuliaan yang ALLOH berikan pada kami sekeluarga di hari yang fitri ini, amin…amin .semoga tahun depan kami dapat mengalami nya lagi. Ya Alloh kami mohon ampun dan khilaf dari apa yang telah kami lakukan. Fitri-kanlah kami kembali, tetap-kan lah kami dalam keimanan yang Haq dan jadikah lah kami orang yang beruntung dengan senantiasa bersyukur atas semua yang Engkau anugrahkan pada kami.
Pulang September 28, 2007
Posted by mulyono rafianto in Cerpen.add a comment
Langkah ini ter-halu dalam deru, tertatih dalam langkah, berpacu dengan waktu, degup jantung berpacu berlomba beriak dalam detik. Ah… seadainya aku bisa tepat waktu sampai di stasiun itu, dengan terburu ku percepat laju langkah ini, peluh tak kuhiraukan, dalam hayal terbayang sudah dusun ku, dan si mungil pras yang sudah tak sabar minta ku peluk… senyum nya sudah lama ter-hafalkan, dan ajakan nya memancing ikan lele kesukaan ku membuat tak sabar untuk mecarikan-nya keong sawah untuk ku gunakan sebagai umpan, pras buah hati ku, simungil yang kian membuatku tak sabar untuk memeluk nya.
Kaki ku terhenti dalam tunggu sesaat, dihalte dalam risau ku duduk, bis kota belum juga lewat, degup jantung kian menjadi, tiket kereta api kelas bisnis ada dalam saku celana ku, akan kah aku dapat tepat waktu sampai di Stasiun, Cemas sudah menggumpal sepekat malam.
Hiruk pikuk kota tempat ku bekerja, larut kian menjelang, cakrawala mengontai semakin berat, gelap sudah mulai pekat. Bis yang ku tumpangi dengan terseok jigjag melaju menderu menghimpit kendaraan kecil samping kanan dan kiri nya, sang raja jalanan hendak lewat maka sang kancil harus menghindar, jalan sempit seakan menjadi miliknya, pada detik terakhir terlihat sudah stasiun itu, lengkingan pluit kereta memanggilku tuk segera masuk dalam koridor gerbong nya,….
Gunung, sungai, ngarai dan lembah sudah kulalui beberapa jam yang lalu, pohon pohon tebu melambai lambai menyeru ku, angin menghempas menampar lamunanku, sungai sungai kecil, lambaian lambaikan pohon kelapa, menyambut sang kelana yang sudah lama meninggalkan tanah kelahiran nya, desa kecil tempat anak dan istriku hidup bahagia disana, dusun yang telah membesarkan buah hati ku “pras”…, nak ayah dah pulang membawa sejuta cerita, membawa sekantung buah tangan yang kamu harapkan, tak banyak yang dapat aku persembahkan pada mu, hanya sejuta rindu yang ada dalam lubuk hatiku.

