Bercermin January 30, 2008
Posted by mulyono rafianto in Manajemen.add a comment
Bercermin
Eileen Rachman & Sylvina Savitri
EXPERD
Personal Growth & Soft Skills Training
Ditayangkan di KOMPAS, 26 Januari 2008
Kenaikan atau penyesuaian gaji selalu merupakan berita yang ditunggu tunggu pada awal tahun. Walaupun pada dasarnya kenaikan gaji pasti terjadi, pada umumnya perusahaan dan karyawan, sama sama setuju , bahwa kenaikan gaji sangat tergantung pada talenta individu. Penilaian talenta inilah yang sering menyebabkan perbedaan persepsi. Bila Anda merasakan keengganan untuk meminta masukan orang lain, bahkan “sakit perut” menyaksikan “bad news” yang tertera di dalam angka-angka,misalnya pada lembar penilaian kinerja, maka Anda juga tidak sendirian. Tidak banyak orang merasakan “fun” bila mendapatkan “feedback”. Bahkan banyak orang mempersepsi acara “feedback” ini sebagai ajang balas dendam, acara pemenggalan, baik dari atasan ke bawahan, maupun sebaliknya, bila bawahan diberi kesempatan mem-feedback atasan.
Dalam pergaulan, tidak sedikit kita menyaksikan orang yang tidak bisa menerima masukan. Masukan dirasakan sebagai serangan dan karena itu perlu diserang kembali ataupun dihindari. Kita pun sering melihat bahwa ada lembaga-lembaga tertentu di pemerintahan yang seakan “lupa” mengevaluasi kinerjanya, padahal tugas dan pekerjaan sehari-harinya adalah: mengevaluasi.
Individu ataupun lembaga bisa saja tetap merasa sejahtera dan oke-oke saja, tanpa evaluasi, bahkan lama-kelamaan kebal terhadap reaksi orang lain di sekitarnya. Tidak jarang kemudian tumbuh pula mekanisme untuk mengarahkan orang lain agar tidak mengevaluasi diri atau lembaganya dan tidak “melihat” apa yang seharusnya dilihat. Memelihara sikap ‘masa bodoh’ dan EGP (emang gue pikiran) begini, memang bisa sejenak membuat nyaman, meskipun tanpa disadari sebetulnya telah menyulut sumbu bom waktu yang tinggal menunggu meledaknya. Banyak orang yang sebenarnya bisa memberi masukan, kemudian malah jadi menghindar. Akibatnya,individu tumbuh menjadi tidak peka terhadap sinyal-sinyal bahaya ataupun perbaikan yang penting dan urgen.
Sebagai mahluk sosial yang ingin maju, kita tentunya juga ingin agar hidup kita dikelilingi oleh bawahan, atasan , kolega, rakyat dengan menjalin hubungan yang mesra dan terbuka. Untuk itu tidak ada salahnya bila kita pun melakukan perbaikan dan pengembangan cara kita bercermin , dan menjadi pribadi yang terbuka .
Pentingnya Jujur pada Diri Sendiri
Respon dari kritik atau umpan balik negatif berbentuk emosi. Rasa takut, khawatir, dan was-was sering keluar dalam bentuk “self-talk”, seperti: “Kok tega-teganya dia bilang begitu”,”Wah, jangan-jangan saya bakal di mutasi”, “Lebih baik diam saja, apapun yang dia katakan. Nanti juga akan diam sendiri. ”, adalah reaksi yang sangat manusiawi. Perasaan semacam ini dihayati oleh siapa saja, bahkan presiden sekalipun.
Yang membedakan satu individu dengan yang lain adalah kemampuan mendengar dan berdialog dengan dirinya sendiri dan bersikap jujur pada diri sendiri. Paling tidak seseorang perlu jujur dan mampu mengenali perasaannya. Identifikasi perasaan saat menerima feedback ini adalah langkah pertama dan utama, yang diperlukan agar seseorang bisa menyusun kekuatan mentalnya dan siap menghadapi “kabar buruk”, bila ada. Bila seseorang tidak tahu apa yang ia rasakan, dan hanya merasakan kekhawatiran yang tidak jelas, dia bisa menyatakannya pada sahabat, pasangan atau ajudannya, yang mau bersikap jujur padanya, sehingga bisa terbangun dialog, paling tidak untuk menyatakan kekhawatirannya.
Pilih Kegiatan Bercermin Anda
Banyak orang merasa tidak nyaman dengan ”feedback” karena asumsinya bahwa kita hanya bisa responsif terhadap ”feedback”. Padahal cara kita mengevaluasi diri bisa kita tentukan sendiri, tergantung dari bagaimana kita bisa me-manage “rasa” senang dan kecewa kita. Ada orang yang bercermin 20 kali sehari, tetapi ada pula yang berdandan secara intensif di pagi hari, menggunakan cermin pembesar dan tidak melakukannya lagi sepanjang hari. Ini semua tergantung “feeling” dari masing-masing individu dan bagaimana ia menyikapi penataan dirinya.
Ada orang yang mendorong dirinya untuk membaca evaluasi dan kemudian menghadiahi dirinya sendiri bila evaluasi bagus. Ada orang yang memilih untuk bersikap proaktif mendatangi pemberi feedback, tetapi ada pula yang memilih bersikap responsif dan menunggu. Apapun gayanya, sikap adaptif terhadap “feedback” adalah sikap yang positif. Kakak saya yang berusia 77 tahun sering mengatakan: “Saya harus berubah terus agar tetap bisa bekerja”. Seorang wirausahawan sukses mengatakan: ”Feedback itu sangat berharga. Daripada membeli data dari perusahaan riset, saya lebih baik ber-”kuping panas” mendengar keluhan pelanggan”. Jadi, Hal kedua dalam ‘bercermin’ adalah menguasai situasi “feedback” dan meyakini bahwa feedback tersebut kita perlukan untuk kemajuan kita. Situasi “feedback” ini hanya bisa bermanfaat, bila di-desain, dan diimplementasikan secara teratur , penuh kesadaran , kebesaran hati dan keseriusan
Menyusun Langkah
Teman saya, yang dengan santun sekali menerima feedback, dan secara spontan menyetujui saran saran perbaikan yang diberikan padanya, ternyata sering tidak menindaklanjutinya dengan perbaikan. Artinya, feedback tidak menjadi pemicu perbaikan baginya. “Sama juga bohong” kata anak muda, sama saja dengan tidak menerima feedback sama sekali. Hal ketiga, dalam menyikapi feedback adalah disusunnya langkah perbaikan dan nyatanya tindakan perbaikan. Hal ini tentunya akan membawa perubahaan nyata yang akan terlihat pada evaluasi selanjutnya.
Organisasi yang terdiri dari individu individu yang masing masing membiasakan diri dengan “feedback” dapat dengan mudah melakukan “alignment” misi pribadi, tim dan organisasi. Selain itu juga tidak usah susah payah mengumandangkan gerakan perubahan, karena setiap individu berinisiatif untuk berkembang dan berubah sendiri. Hanya dengan cara ini, organisasi akan berkembang menjadi tempat yang diwarnai kejujuran dan keterbukaan, dan otomatis membawa suasana yang lebih mesra dan hangat.
EXPERD CONSULTANT
Adding value to business results
Plaza Pondok Indah 3 Blok C/2
Jl.Tb. Simatupang
Jakarta 12310
Telp. 021-7590 6448
Fax. 021-7590 6442
Promo Vs Advance Program October 24, 2007
Posted by mulyono rafianto in Manajemen.add a comment
“Promo vs Advance Program”
Dalam tulisan ini saya ingin berbagi pengalaman atau share barangkali ada juga yang mengalami kasus yang sama dalam segi pelaporan Rugi/Laba (Normal dan ada faktor Advance), dan kita bisa ambil penyelesaian yang bijaksana dalam menerapkan nya (“Sesuai dengan hukum Akutansi yang berlaku juga tidak menyalahi aturan Perpajakan”).
Suatu saat Saya dihadapkan pada permasalahan Program Advance yang artinya program tersebut kita dapatkan dari Prinsipal kita untuk menutupi Promosi yang sedang berjalan dalam periode waktu tertentu, dimana Prinsipal memberikan potongan harga pada setiap invoice pembelian kita (katakanlah 12% / Variant ), dengan kondisi tersebut harga beli kita menjadi lebih rendah dari harga invoice Pembelian normal.
Namun demikian setiap kali prinsipal menerepkan kebijakan Promosi Program level satu (Potongan pertama / Promo discount sebelum discount Regular dan discount Cash), mereka meminta untuk memotong dari Advance tersebut, akumulasi dari tiap invoice pembelian yang sebelum nya diberikan, dimana Program yang dijalankan prinsipal umum nya berjalan menurut Promo Disc program, dengan set dan kurun waktu yang sudah ditetapkan untuk segment outlet, kategori product, dll tertentu, dalam kasus real nya tergambar seperti perhitungan berikut ini:
-
Pembelian : 2.000.000.000,- (Normal)
-
Advance (12%) : 1.760.000.000,- (Beli Setelah atau ada Advance)
-
Sales Penjualan: 3.000.000.000,- (Penjualan)
-
Biaya Promo 100.000.000,- (Biaya Promosi)
Jika kita kalkulasi kan dengan kondisi normal maka tercipta kondisi berikut ini :
- Sales 3.000.000.000,- (Penjualan Normal)
- HPP Normal 2.000.000.000,-
- 1.000.000.000,- (Keutungan Gross)
- Biaya Promo 100.000.000,- (Promo Program Prinsipal)
- Income Netto 900.000.000,- (Keuntungan lebih kecil)
Namun Jika kita melakukan perhitungan dengan menggunakan variable Advance sbb:
- Sales 3.000.000.000,-
- HPP + Advance 1.760.000.000,- (HPP setelah Include Advance)
- 1.240.000.000,- (Keuntungan Gross)
- Biaya Promo 100.000.000,- (Promosi Program Prinsipal)
- Income Adv Gross 1.140.000.000,- (Income terlihat lebih besar)
Yang menjadi permasalahan dalam kasus ini adalah kita berharap untuk mendapatkan keuntungan atau Rugi / Laba Real yang dapat kita sajikan dan bagaimana dampak nya terhadap HPP kita yang real dimana sisa saldo Advace yang ada setelah Program Promo periode satu berjalan adalah sebagai berikut :
Advance Alokasi (Saldo Awal): 2.000.000.000,- (-) 1.760.000.000,- = 240.000.000,-
Advance terpakai oleh Promosi Program Berjalan 100.000.000,-
Saldo Advance 240.000.000-, (-) 100.000.000,- = 140.000.000,-
Untuk catatan pula bahwa Pengunaan Advance dan Promosi Program yang ada selalu kita report pada Prinsipal setiap beriode bulanan.
Maka keuntungan Income Advance Netto yang ada seharusnya sebesar 1.140.000.000,- (-) 140.000.000,- adalah sebesar 1.000.000.000,- ,
Sekilas terlihat keuntungan yang di dapat dengan menggunakan Advance lebih untung dibanding tidak menggunakan Advance atau Posisi Normal yaitu :
Income tanpa Advance 900.000.000,- (Normal)
Income dengan Advance 1.000.000.000,- (dengan Advance)
Yang menjadi masalah keuntungan dengan menggunakan Advance yang 1.000.000.000,- tersebut mempengaruhi nilai dari HPP yang ada yang normal nya 2.000.000.000,- menjadi 1.760.000.000,- , dan kita pun dibebankan dengan ada nya saldo Advance yang bersisa 140.000.000,- lagi sebagai cadangan untuk memotong Program promosi bulan berikut nya atau seolah kita memperoleh Pembayaran dimuka Program yang akan kita jalankan pada periode berikut nya.
Dengan melihat kondisi tersebut diatas, kita dapat menyimpulkan bahwa HPP kita yang sebenar nya sangat dipengaruhi oleh kondisi Pergerakan Advance, dari kasus kita tersebut Persedian Barang dagangan yang kecil menjadi kendala pertanyaan “Berapa sesungguh nya nilai HPP kita yang sebanar nya?, Income kita sebenarnya?, Apakah kondisi tersebut menyalahi atruran Akuntansi yang ada?, atau aturan Perpajakan yang ada?, Jika ada Solusi dalam menyajikan laporan keuangan, utama nya Rugi/Laba seperti kasus diatas?.
Dalam contoh perhitungan diatas kita gunakan angka-angka bulat, namun sebenar nya / pada kenyataan nya Advance yang diterima berlaku pada setiap pembukaan Invoice Pembelian dengan variant prosentase berbeda dengan range kisaran 10% s/d 20%, sehingga mungkin saja dalam sebulan kita mendapatkan variant Advance 10%,12%,10%,13.5%,15%,10%,18% (untuk setiap kasus invoice pembelian berbeda), dalam sebulan mungkin juga kita memiliki 10 s/d 20 invoice pembelian dengan discount Alokasi Advance berbeda (disisi principal berkenaan dengan Budget promosi) atau kontrol terhadap marekting prinsipal dalam alokasi biaya promosi.
Contoh perhitungan simple diatas juga mengesampingkan variant biaya lain (untuk memudahkan simulasi perhitungan), yang lebih komplek lagi Promo Program discount yang dilakukan bisa saja bersifat nasional Promo, yang artinya kita suplier / distributor lokal area dengan coverage tertentu, dibebankan oleh Prinsipal untuk menerima pemotongan A/R oleh Outlet kita secara Group Nasional, padahal Outlet yang ada (yang kita Cover hanya sebagian), mencakup hanya beberapa Outlet sesuai coverege area kita, sehingga A/R kita menjadi objek pemotongan oleh promo nasional dari Principal, namun demikian semua promo nasional Prinsipal tersebut dapat kita Claim ke Prinsipal dengan terlebih dahulu memperhitungkan Advance yang kita dapatkan.
Promo nasional tersebut kemudian kita biaya-kan langsung, setiap saat kita lakukan pelunasan A/R, dengan kondisi jika ada beban pemotongan Program promo nasional pada Group outlet tersebut. tidak mustahil suatu saat A/R kita habis oleh beban pemotongan Program Promosi, namun hal ini jarang terjadi karna biasa nya Program discount promosi yang ada tidak melebihi dari A/R yang ada. demikain ulasan diatas di paparkan, lalu bagaimana pengaruhnya terhadap HPP kita, dan berapa Income kita yang sebenarnya?, apakah ada Solusi?.

