Bagaimana sebenar nya berpoligami?

Poligami dari sisi sejarah sebenarnya sebagai pintu pada situasi darurat sosial tertentu. Ia adalah pintu pengaman saja. Bahkan penulis perlu tegaskan, sesungguhnya poligami itu bukan bersumber dari  ajaran Islam. Islam yang dibawa Nabi Muhammad saw berlangsung sejak awal abad ke-7 (beliau diangkat menjadi Rasul ketika berusia 40 tahun,  sekitar tahun 609 M), sementara praktek poligami di dunia sudah terjadi sebelum abad ketujuh.

Sebelum datangnya Islam di belahan dunia manapun sudah lumrah seorang laki-laki memiliki istri sepuluh, duapuluh, tigapuluh bahkan seratus orang istri atau bahkan lebih banyak lagi. Di kalangan masyarakat Arab, seorang laki-laki boleh memiliki istri sebanyak yang diinginkan. Saat itu menjadi hal wajar di berbagai peradaban dengan istilah selir, harem dan lain-lain.

Pada abad itu, kaum arab quraisy memiliki mobilitas yang tinggi sekali. Mereka tinggal di lembah Bakka (Mekkah) yang dikelilingi gurun pasir Hizaz. Mereka hidup hanya dengan menggembalakan ternak di gurun pasir yang demikian gersang. Kalau mereka ingin lebih makmur mereka harus berdagang. Sementara pusat dagang saat itu hanya ada dua, Syam di Utara (pedagang Romawi dan Persia) dan di selatan ada Yaman (pedagang Madagaskar dan Timur Jauh). Itulah dua daerah perdagangan yang paling dekat.

Mereka mengalami dua musim. Jika Mekkah dingin mereka pergi ke arah Yaman, sebaliknya jika cuaca panas mereka ke Syam seperti disebutkan dalam Al Qur’an surat Al-Quraisy. Saat itu marak sekali terjadi perampokan di rute-rute perdagangan yang mereka lewati. Selalu saja ada peperangan saat melakukan perjalanan dagang. Oleh karena itu dituntut kekuatan fisik, kemampuan berkelahi dengan atau tanpa senjata, kemampuan berkuda, kemampuan mempertahankan hidup dalam situasi sulit dan lain-lain, yang rata-rata dimiliki kaum laki-laki. Maka seringkali kaum laki-laki arab quraisy berdagang, terlibat perang dan terbunuh.

Lalu terjadilah beberapa kondisi, pertama banyaknya janda dan anak-anak terlantar. Timbul pertanyaan, siapa yang mengurusi mereka? Kedua karena mereka berdagang dalam kabilah-kabilah dan banyak laki-laki yang mati, maka armada dagang dan perang makin kecil dan lemah. Timbullah kebutuhan untuk memperbanyak anak laki-laki dalam rangka memperkuat dan menjaga continuity armada kabilah. Disitulah laki-laki yang tersisa harus banyak kawin dengan banyak perempuan supaya melahirkan anak laki-laki yang banyak.

Nah, poligami saat itu memang diperlukan. Poligami adalah tuntutan dari sebuah keadaan zaman yang didominasi oleh patriarkis, dominasi laki-laki berdasarkan fisik. Tentu saja  dalam poligami seperti itu akan muncul banyak distorsi, perlakuan yang tidak semestinya. Karena jumlah istri yang begitu banyak maka tidak semuanya mendapatkan perlakuan yang baik. Lantas anak-anak pun menjadi serba terlantar. Orang cenderung mengabaikan anak-anak yatim karena sibuk mengurus anak-anak dan keluarganya sendiri.

Jadi, praktek poligami tadinya berjalan wajar, terjadi secara alami, tetapi setelah munculnya banyak distorsi dan penyimpangan, Islam datang melakukan koreksi. Maka ketika Al-Quran bicara poligami, sebenarnya bukan mendorong untuk menikah dari satu menjadi dua, tiga dan empat. Tetapi dari poligami yang beralasan diperintahkan memaksimumkan menjadi empat. Dan empat pun disyaratkan untuk berlaku adil, kalau tidak bisa, ya cukup satu saja. Jadi kalau kita baca ayat-ayatnya justru harus menggunakan logika yang terbalik, yaitu dari delapan menjadi satu, bukan satu menjadi delapan.

Sebuah contoh nyata terjadi pada saudara-saudara muslim kita di bekas Negara Yugoslavia. Tahun 1992, Muslim Bosnia dihabisi oleh orang-orang Serbia dan Kroasia. Perempuan dan anak-anak diungsikan, kaum laki-laki berperang. Setelah perang usai ternyata menyisakan banyak istri yang menjadi janda dan anak-anak menjadi yatim, karena suami dan ayah mereka berguguran di medan perang. Dalam situasi itu Majlis Ulama Bosnia memerintahkan lelaki muslim untuk berpoligami karena minimnya jumlah lelaki.

Al Qur’an Surat An Nisa ayat 3 menyebutkan:
“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bila kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya”.

Sepintas ayat tersebut menganjurkan para lelaki untuk beristri empat dan memang, umumnya para ulama berpenafsiran seperti itu, namun sebenarnya itu tidak tepat. Sebab ayat tersebut berawal dari huruf waw athaf, ‘wa in khiftum… jadi kita harus melihat ayat sebelumnya, ayat dua dan satu.

Lantas dimana ayat poligaminya ? Kita harus menjawab secara holistik, ayat satu, dua dan tiga.

  1. Wahai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu dan daripadanya Allah menciptakan isterinya, dan daripada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain. Dan peliharalah hubungan silaturahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.
  2. Dan berikanlah kepada anak-anak yatim (yang sudah baligh) harta mereka, jangan kamu menukar yang baik dengan yang buruk dan jangan kamu makan harta mereka bersama hartamu sesungguhnya tindakan-tindakan (menukar dan memakan) itu, adalah dosa yang besar.
  3. Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bila kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.

Ayat pertama bicara Ittaquu, taqwa. Ayat kedua, peduli pada anak yatim. Ayat tiga, memang ada kata Fankikhuu tetapi bersyarat, in khiftum, itu syaratnya, keadilan.

Kalau dicermati, fokus pada ayat ketiga ini adalah perlakuan adil dan tidak menelantarkan anak yatim, sedangkan poligami disinggung hanya sebagi pilihan solusi bukan topik utama.

Topik utamanya adalah mengenai taqwa, perlindungan anak yatim dan keadilan. Agar bisa berbuat adil pada anak yatim maka kawinilah ibunya. Kenapa? Sebab seringkali orang sulit berbuat adil pada anak yatim karena merasa anak yatim itu sebagai anak orang lain. Lalu terbersit pemikiran dalam benak, “Jika nanti kita tua apakah dia akan menolong kita?”. Berbeda jika kita menolong anak sendiri, lain hari masih ada harapan mereka berbalik menolong kita. Guna menghapus keraguan tersebut, maka kawinilah ibunya kemudian anak itu menjadi anakmu juga.

Penulis menyimpulkan, dari 6236 ayat al-Quran tidak ada yang mengangkat poligami menjadi topik utama. Pada Surat Annisa tersebut topiknya adalah keadilan sedangkan menjadi salah satu tema poligamisolusi pilihan alternative dengan pertimbangan yang tepat. Jadi pembolehan poligami lebih berdasarkan pada situasi dan kondisinya demi tercapai maksud tidak terlantarnya anak-anak yatim.

Praktek Poligami Rasulullah saw

Fakta sejarah mengungkapkan Rasulullah saw menikah usia 25 tahun. Lalu, pada usia 51 tahun istri beliau, Siti Khadijah wafat. Jadi selama 26 tahun beliau monogami (bersitri satu). Dua tahun berikutnya beliau menduda hingga usia 53 tahun. Kemudian terjadilah peperangan dan banyak para suami yang syahid. Baru kemudian beliau menikahi seorang janda bernama Saudah -yang menurut sejarah, usianya lebih tua dari Rasulullah-. Pertimbangan Rasulullah, Saudah memiliki anak banyak yang membutuhkan pelindung.

Usia Siti Khadijah ketika dinikahi Rasulullah saw sekitar 40 tahun,  itu artinya di separuh pernikahan sangat mungkin Nabi menikahi wanita monopouse. Karena itu Khadijah tidak punya anak lagi termasuk anak laki-laki. Jika melihat konteks saat itu (atau bahkan mungkin hingga saat ini di Arab Saudi) anak laki-laki memang memiliki kedudukan yang istimewa sebagai penerus. Dan, Nabi saat itu hidup pada zaman arab patriarkis, dimana garis keturunan ditentukan anak laki-laki. Sedangkan nabi belum memiliki anak laki-laki, jadi sangat mungkin kondisi tidak memiliki anak laki-laki dari wanita yang diperistrinya itu dijadikan alasan untuk menikah lagi. Tetapi itu tidak dilakukan oleh Beliau. Beliau mempertahankan hidup monogami selama 26 tahun.

Lebih dari itu, bahwa pada perkawinan ketiga, dengan Aisyah binti Abu Bakar. Konteks saat itu pinangan Rasulullah atas Aisyah telah menyelamatkan Abu Bakar dari dilema antara menikahkan putrinya dengan seorang kafir atau mengingkari janjinya kepada Muth’im bin Ady orang tua dari pemuda kafir tersebut yang telah dijanjikan untuk menikahi putrinya.

Sungguh beruntung bahwa yang terjadi justru istri Muth’im bin `Ady tidak menghendaki anaknya menikahi Aisyah karena tidak menginginkan anaknya masuk agama Islam, maka pinangan Rasulullah pun diterima.

Saat itu ada sebuah dilema di dalam diri Abu Bakar ra, tidak mungkin Abu Bakar menunangkan putrinya dengan Djubeir bin Muth’im yang berada di front terdepan dari para penentang Rasul sementara beliau menjadi tangan kanan Rasulullah. Abu Bakar sempat ragu, jika beliau menolak lamaran tersebut dikhawatirkan hubungan silaturahim rusak dan jika diterima maka anaknya akan menjadi istri dari seorang yang berkarakter keras dan penentang Rasulullah saw, dilematis, solusinya lalu dinikahkan dengan Rasul.

Selanjutnya dalam kurun tiga tahun Rasulullah saw menjalani poligami dengan beberapa istri yang suaminya gugur dimedan perang. Setelah ekonomi Islam semakin makmur akibat kesuksesan dalam perang dan hasil rampasan perang, Nabi tidak melanjutkan praktek poligami. Dengan kata lain, kemakmuran dan keturunan bukan alasan yang mengharuskan berpoligami.

(sumber : qalbunet – http://www.qalbu.net)

This entry was posted in Al Islam. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s