3th World war, ternyata perang Media & Pembodohan Public?

Suatu saat di tahun 2001, setelah peristiwa 11 September, ketika stasiun televisi Arab Al-Jazeera menyiarkan gambar yang dikatakan sebagai putra dari Usamah bin Ladin, media Barat, terutama AS, pikir-pikir untuk ikut menayangkannya. CNN hanya menampakkannya beberapa detik.

Fox News, sama seperti banyak saluran televisi kabel lainnya, tidak menayangkan gambar apapun. Seorang jurubicara dari Fox, sebagaimana dikutip media mengatakan, “Tidak seperti (media) yang lainnya, kami di sini tidak akan melakukan pekerjaan humas untuk Taliban.” Mengapa media massa Barat yang sering menggembar-gemborkan prinsip jurnalistik ideal seperti journalistic truth, cover both sides, without fear or favor, menjadi melempem? Tidak lain dan tidak bukan karena ada Office of Strategic Influence (OSI) yang merupakan sebuah disinformation unit, sebuah lembaga yang sengaja dibentuk oleh pemerintah guna memberikan informasi yang tidak benar, bohong, dan manipulatif dengan tujuan membentuk opini publik, sebagaimana yang mereka kehendaki. Kantor kecil yang didukung anggaran jutaan dollar itu, dibentuk tidak lama setelah serangan 11 September 2001 terjadi, sebagai jawaban atas keprihatinan pemerintah Amerika Serikat yang mulai kehilangan dukungan rakyatnya atas perang melawan teroris di luar negeri, khususnya di negara-negara Islam.

Meskipun Rumsfeld mengatakan bahwa kantor itu belum memiliki dasar hukum, beredar sebuah pengarahan rahasia di lingkungan Pentagon yang mengatakan bahwa kantor itu harus mencari cara untuk “menekan” para wartawan asing dan pembuat opini, dan “menghukum” mereka yang menyampaikan berita yang salah, demikian tulis New York Times (27/2/02). Namun, misi dan visi OSI yang rahasia itu akhirnya terendus publik.

Seorang pejabat Pentagon yang tidak disebutkan namanya mengatakan, Rumsfeld sangat marah karena perdebatan internal mengenai kantor itu telah bocor ke publik. 27 Februari 2002, New York Times menulis dalam sebuah laporannya, Menteri Pertahanan Donald H. Rumsfeld hari itu membubarkan Office of Strategic Influence (OSI) buatan Pentagon, mengakhiri sebuah rencana yang baru berusia muda untuk menyediakan bahan berita –yang bisa jadi palsu– untuk para wartawan asing guna mempengaruhi sentimen publik di dunia internasional.

Rumsfeld tentu menyangkal apa tugas sebenarnya dari organisasi itu. Ketika ditanya mengapa OSI dibubarkan, ia mengatakan bahwa komentar dan kartun editorial seputar tujuan dan aktivitas OSI telah membuat organisasi itu sulit melakukan tugasnya. “Kantor itu telah sedemikian rusak sehingga sangat jelas bagi saya bahwa ia tidak bisa menjalankan fungsinya secara efektif,” begitu alasannya.

OSI boleh tamat riwayatnya dalam waktu hanya 9 bulan. Tapi misi dan visinya terus dilanjutkan oleh unit lain yang disebut dengan Information Operations Task Force. Seorang pejabat Pentagon mengatakan bahwa pemerintah telah menyewa The Rendon Group untuk membantu menjalankan tugas-tugas unit tersebut.

Perusahaan jasa humas internasional yang dipimpin oleh John Rendon, mantan staf kampanye pilpres Presiden Jimmy Carter, akan mendapat bayaran USD 100.000 per bulan untuk pekerjaannya membantu tugas-tugas kantor Pentagon lainnya. Jenderal Richard B. Myers, Ketua Gabungan Kepala Staf, mengatakan kepada House Armed Services Committee pada 6 Februari 2002, bahwa mereka sudah lama memiliki tugas dan tanggung jawab untuk “membangun, mengkoordinasikan, mengurangi konfik, dan memantau pengiriman pesan yang terus menerus, relevan dan efektif kepada publik internasional,” demikian tulis NYT (27/2/02). Tebar Pesona Adalah menjadi tujuan militer Amerika untuk memenangkan peperangan.

Tapi, berapa biaya yang sudah dikeluarkan Amerika Serikat untuk mengongkosi perang-perangnya sejak tahun 2001? National Priorities Project (NPP), lembaga riset Amerika beranggotakan cendekiawan dari berbagai perguruan tinggi terkemuka, dengan tujuan menganalisa dan mengklarifikasi data pemerintah Federal terkait penggunaan pajak rakyat AS, mempunyai datanya. Tahun 2001-2002, rakyat AS membiayai perang negaranya sebesar USD 20,8 milyar, tahun 2003 USD 67,7 milyar, tahun 2004 USD 90,4 milyar, tahun 2005 USD 105,5 milyar, tahun 2006 USD 120,7 milyar, tahun 2007 USD 170,5 milyar, dan tahun 2008 USD 183,0 milyar.

Pada tahun 2009 ini yang belum berakhir, sudah mencapai angka USD 156,5 milyar. Perang fisik yang dilakukan Amerika, meskipun dengan dukungan pasukan terlatih dan peralatan tempur super canggih, dinilai sangat melelahkan dan memakan materi dan nyawa yang tidak sedikit di pihaknya. Perang Vietnam menjadi bukti nyata bahwa perang fisik sangat sulit bagi Amerika. Meskipun hingga saat ini mereka tidak mau mengakuinya kekalahannya, jelas perang itu merupakan mimpi buruk dan aib bagi negara dan veteran perangnya. Iraq, negara yang tidak lagi punya pemimpin kharismatik dan wilayah yang sudah kacau balau, toh hingga saat ini tidak mampu dibuat tunduk seratus persen di bawah kaki Amerika.

Di Afganistan, Amerika Serikat membentuk pemerintahan boneka. Mereka dibantu kekuatan gabungan puluhan ribu tentara NATO dan sekutunya, yang dibekali perlengkapan tempur komplit dan canggih, namun hingga saat ini mereka tidak mampu menguasai wilayah selatan Afganistan yang menjadi basis kekuatan pejuang Taliban.

Jauh lebih berbahaya dari perang dengan tank, senjata api, pesawat tempur dan bom, peluru kendali, adalah kampanye tebar pesona yang mengagumkan. Perang yang paling berbahaya adalah perang pemikiran—kampanye propaganda yang mengendalikan pemikiran-pemikiran orang banyak.

Demikian tulis Paul J Balles, seorang profesor mantan pengajar di universitas Amerika. Mereka yang mengontrol media, mengontrol sikap mental orang banyak. Hasil polling terakhir di bulan Agustus lalu yang dilakukan oleh Washington Post dan ABC News menyatakan bahwa 51 persen orang dewasa Amerika mengatakan perang Afganistan tidak layak untuk dilakukan.

Angka itu naik 6 persen dari jumlah polling 10 bulan lalu. Kurang dari separuh, yaitu 47 persen yang menyatakan perang itu wajar menelan biaya yang banyak.

Sebanyak 41 persen menentang keras perang Afganistan, sementara hanya 31 persen yang mendukungnya. Polling yang digelar oleh Gallup atas perang Iraq bulan Juli lalu, menunjukkan bahwa 58% publik di Amerika menyatakan bahwa perang Iraq adalah sebuah kesalahan. Mengapa orang Amerika yang pastinya juga memiliki rasa kasih sayang, seakan acuh tak acuh melihat pembantaian satu juta orang Arab di Iraq, meskipun mereka tahu bahwa perang yang dilakukan itu berdasarkan pada kebohongan? Jawabnya, karena propaganda yang dilakukan selama bertahun-tahun.

“Peganglah kendali atas radio, pers, film dan teater,” kata Joseph Goebbels, Menteri Propaganda Adolf Hitler. Ia sangat paham teknik membuat ‘kebohongan besar’ dengan menggunakan propaganda sebagai alatnya. Prinsipnya adalah, sebuah kebohongan jika diulangi terus menerus, akhirnya akan dipercaya sebagai sebuah kebenaran. Itulah alasan Pentagon berani membayar mahal The Rendon Group, yang berusaha mati-matian mempengaruhi dan mengendalikan media-media massa, agar bisa menguasai isi kepala masyarakat internasional

Sumber : CP dari :  http://www.hidayatullah.com/index.php?option=com_content&view=article&id=9230:2009-09-11-12-46-26&catid=94:ragam&Itemid=88

This entry was posted in Al Islam. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s